Breaking News:

Pembuluh Darah Pecah Tidak Terkait dengan COVID-19? Ini Penjelasan Direktur RS Pusat Otak Nasional

Di media sosial sempat beredar kabar bahwa vaksinasi COVID-19 dapat menyebabkan terjadinya pendarahan dalam tubuh atau pembuluh darah pecah

Editor: Siti Fatimah
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di media sosial sempat beredar kabar bahwa vaksinasi COVID-19 dapat menyebabkan terjadinya pendarahan dalam tubuh atau pembuluh darah pecah sebagai efek samping dari pelaksanaan vaksin.

Menyikapi informasi ini, Direktur RS Pusat Otak Nasional, Mursyid Bustami menegaskan kabar tersebut tidak benar.

Dikutip dari laman resmi Covid.go.id, Ia mengungkapkan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat dan valid yang menunjukkan ada kaitan antara pemberian vaksinasi COVID-19 dengan terjadinya pecahnya pembuluh darah.

Baca juga: Lansia di Sumedang Jalani Vaksinasi Covid-19 dengan Akabri 89

“Terkait adanya info bahwa vaksin berisiko menyebabkan stroke pendarahan otak, kami klarifikasi bahwa secara ilmiah pun tidak ada hubungan antara stroke pendarahan dengan vaksin COVID-19,” tegas Mursyid.

Efek samping yang mungkin timbul, menurut Mursyid sifatnya masih sangat ringan dan mudah diatasi seperti demam, nyeri, mengantuk, lapar dan lain sebagainya.

Efek samping ini pun biasanya tidak berlangsung lama, maksimal 2 hari pasca penyuntikan vaksin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan sekitar 20 persen stroke pendarahan disebabkan karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah dengan penyebab utamanya karena tingginya faktor risiko tertentu dan bukan disebabkan oleh vaksin COVID-19.

Baca juga: Ingin Turun ke PPKM Level 1, Pemkot Cirebon Genjot Vaksinasi Covid-19 Bagi Lansia

Mursyid mengungkapkan faktor risiko stroke dapat menjadi common rezpector (faktor resiko bersama) seperti di antaranya:

Diabetes

Hipertensi

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved