Breaking News:

EBITDA Transformation Program, Jadi Alat Ukur Kinerja Korporasi, Termasuk Perbaiki Kinerja Keuangan

EBITDA atau Earning Before Interest, Tax, Depresiation and Amortisation merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui kinerja korporasi

Editor: Siti Fatimah
dok PTPN
EBITDA Transformation Program 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebagai salah satu pemain agribisnis terbesar di Jawa Barat, PTPN VIII perlu melakukan pengembangan dan perbaikan secara berkelanjutan dalam setiap proses bisnisnya.

Dengan luas wilayah sebesar ± 113 Ha yang tersebar di Provinsi Jawa Barat dan Banten, PTPN VIII berkomitmen untuk memberikan kontribusi untuk negara dan masyarakat.

Direktur PTPN VIII Mohammad Yudayat mengatakan, hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja dan optimalisasi pendapatam dalam pengelolaan bisnis, PTPN VIII dibawah arahan Holding Perkebunan PTPN III (Persero) menyusun strategi korporasi yang disebut EBITDA Transformation Program.

Baca juga: PD Kebersihan Resmi Dilikuidasi, Wali Kota Oded Ungkap Bukan Karena Kinerja Buruk Tapi Alasan ini

"Seperti kita ketahui, EBITDA atau Earning Before Interest, Tax, Depresiation and Amortisation merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui kinerja korporasi, khususnya hasil aktivitas bersih di luar pengaruh aktivitas non cash dan pengaruh pajak serta bunga pinjaman," Katanya dalam keterangan resmi yang diterima Tribun.

Secara umum EBITDA dapat dihitung dengan menambahkan laba bersih dengan beban amortisasi/depresiasi, beban pajak, beban bunga, serta mengurangkan pendapatan bunga periode berjalan. 

Namun demikian, hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan evaluasi. Untuk melihat hasil aktivitas utama korporasi, dapat dilakukan modifikasi perhitungan yang diantaranya dengan mengeluarkan (mengurangkan) pendapatan lain-lain yang berasal dari aktivitas non komoditi utama, disposal aset, dan sebagainya.

Baca juga: Terapkan Strategi Transformasi Proses Bisnis, Jasa Raharja Bukukan Kinerja Positif Saat Pandemi

Adapun hasil aktivitas korporasi PTPN VIII dipengaruhi pencadangan beban imbalan kerja sesuai PSAK 24 yang juga merupakan aktivitas non cash, sehingga dalam analisisnya menjadi catatan untuk perhatian lebih lanjut.

Dalam hal ini juga dapat dilakukan justifikasi diantaranya dengan mengkoreksi accrue beban imbalan kerja dalam perhitungan EBITDA dengan realisasi pembayarannya.

Prinsip model operasi PTPN Holding yang semua Strategic Holding, berubah menjadi Operating Holding, dimana PTPN VIII sebagai anak perusahaan diposisikan sebagai unit produksi, serta pengambilan keputusan strategis, keuangan, penjualan & pemasaran dilaksanakan oleh Holding Perkebunan Nusantara.

Baca juga: Manfaatkan Medsos untuk Jejaring Pemasaran, Bisa Dongkrak Kinerja Positif Perusahaan Saat Pandemi

EBITDA Transformation Program mulai dilaksanakan mulai tahun 2020 sd tahun 2024, dengan 9 (sembilan) program unggulan yaitu Revenue Enhancement, Zero Based Budgeting (ZBB), Organizational Exellence, Cash Control Tower, Procurement Exellence, Logistics Optimization, Operations Control Tower, Management Review Cycle (MRC), Strategic Tranformation Office (STO).

“Seluruh transformasi harus berorientasi pada action untuk mendorong perubahan dengan berkomunikasi aktif, terbuka dan transparan.” katanya.

Yudayat juga menyatakan, Key Success Factors dalam transformasi adalah komitmen yang kuat untuk melakukan perubahan, memiliki tujuan bersama yang objektif dan jelas dengan KPI yang terukur sehingga memudahkan monitoring progress, memfokuskan tenaga dan pikiran untuk mencari solusi dengan belajar dari masa lalu dan berani mencoba hal baru.

Kesuksesan transformasi PTPN VIII membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak baik internal maupun eksternal, semoga upaya perbaikan kinerja dapat segera mendapat hasil yang optimal untuk PTPN VIII yang lebih baik dan dapat memenuhi seluruh kewajiban kepada seluruh Stakeholders

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved