Breaking News:

Tragedi Sungai Cileueur Ciamis

Keluarga Korban Susur Sungai di Ciamis Minta Pertanggungjawaban Sekolah, ''Kok Bisa Sampai Teledor''

Aditya Maulana, siswa MTs Harapan Baru Cijantung, Ciamis, menjadi satu korban tenggelam saat kegiatan susur sungai pramuka.

Penulis: Padna | Editor: Giri
Tribun Jabar/Padna
Tati, bibi Aditya Maulana siswa MTs Harapan Baru Cijantung Ciamis yang jadi korban kegiatan pramuka susur sungai. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Aditya Maulana, siswa MTs Harapan Baru Cijantung, Ciamis, menjadi satu korban tenggelam saat kegiatan susur sungai pramuka.

Keluarga meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah.

"Saya mah hanya minta dilereskeun (dibetulkan), karena ini mah kan kayaknya ada keteledoran sekolah," ujar Tati (49) bibi Aditya Maulana saat ditemui Tribunjabar.id di rumahnya di RT 20/5 Dusun Mekarsari, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (16/10/2021) siang.

"Kok sampai lepas dari pantauan pengawasan pembimbing itu, kenapa? Saya khususnya keluarga minta kejelasan dan minta dibetulkan."

Karena, katanya, bukan hanya keluarganya, keluarga korban lain juga meminta hal yang sama.

"Kita meminta jawaban dari pihak sekolah, kok bisa sampai terjadi seperti ini, kok bisa sampai teledor. Nanti, kita juga kalau ibunya sudah mereda dukanya akan bertanya ke sekolah. Mau tanya, kok bisa lalai," ucapnya.

Sedangkan, kata dia, harusnya anak-anak sebesar itu masih berada dalam pantauan pembimbing.

"Bukan hanya disuruh, terus dibiarkan. Apalagi yang membimbingnya, katanya ada kakak kelasnya," katanya.

"Harusnya teliti saat akan menyusuri sungai, kan katanya ada kuncennya (juru kunci di sungai tempat kejadian). Harusnya ngomong dulu, terus kenapa tidak memakai tambang-tambang mentas teh (menyeberang). Kenapa kegiatannya sampai dadakan dan teledor? Intinya kita mah, minta jawaban dari sekolah."

Selain itu, da meminta kepada pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.

"Kan ini menyangkut nyawa orang, banyak lagi anak yang meninggal. Pertanggungjawaban sekolah mau seperti apa?" ucapnya.

Dia berharap, setelah ada kejadian ini semoga ke depan tidak ada lagi yang namanya pramuka menyusur sungai.

"Kalau bisa hentikan acara seperti itu. Mending hapus saja daripada membahayakan nyawa orang lain," kata Tati. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved