Kisah Unik Pilkades, Gadis Cantik Bertarung dengan Ayahnya yang Sering Diajak Diskusi Soal Kampanye
Kisah unik perhelatan Pilkades serentak di Purwakarta, anak bapak bertarung jadi lawan politik untuk menduduki kursi Kades di Desa Babakancikao,
Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana
TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kisah unik perhelatan pemilihan Kepala Desa (pilkades) serentak di Purwakarta, anak bapak bertarung jadi lawan politik untuk menduduki kursi Kades di Desa Babakancikao, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta.
Minar Suminar Calon Kepala Desa Nomor urut 1 di Desa Babakancikao Kabupaten Purwakarta akan bertarung melawan anaknya Indri Suminar yang merupakan calon Kepala Desa nomor urut 2.
Minar yang merupakan calon kades incumbent di Desa Babakancikao Cikao mengatakan, ia daftar pertama kali pada tahapan Pilkades bulan Mei lalu.
"Saya ikuti sesuai aturan karena ini proses demokrasi, saya daftar pertama kali ke panitia, tapi sampai batas waktu pendaftaran belum ada calon lain yang mendaftar," ujar Minar ketika dikonfirmasi Tribun melalui sambungan telepon, Jumat (15/10/2021).
Ia mengatakan atas alasan tersebut, ia menawari anaknya untuk mencalonkan kades di Desa Babakancikao Kabupaten Purwakarta.
"Saya menunggu calon lain, tapi belum ada calon lain sampai pada hari terakhir pendaftaran, sesuai aturan karena ini proses demokrasi gak mungkin calonnya cuma satu, saya tawari anak saya," kata dia.
Setelah ditawari, lantas Indri Suminar sang anak yang merupakan calon kades nomor urut dua mendaftarkan diri pada malam hari 10 menit sebelum pendaftaran ditutup.
"Anak saya mau, akhirnya saya daftarkan dia. Ya kita berjalan saja sesuai aturan," ujarnya.
Dihubungi terpisah, Indri Suminar dara cantik berusia 25 tahun itu mengaku, ia kian berambisi dalam dunia politik setelah mengikuti ajang perhelatan Pilkades serentak.
"Saya sih awalnya belum kepikiran mau nyalon, karena masih terlalu muda. Saya juga masih butuh proses untuk mengetahui dunia politik," ujar Indri dalam sambungan telepon.
Ia mengatakan, pada pendaftaran tersebut ia masih bingung bagaimana dan seperti apa menjadi calon kepala desa.
"Awalnya memang bingung mau apa dan kayak gimana, tapi seiring berjalannya waktu saya mulai paham karena belajar dari bapak," kata dia.
Indri mengungkap, ia sering berdiskusi bersama sang ayah perihal strategi kampanye dan sosialisasi.
"Kalau saya gak sungkan cerita sama bapak, sosialisasi juga kadang bareng sama bapak," imbuhnya.
Indri mengungkap, ia lebih sering menghabiskan waktu bertemu masyarakat khusunsya kaum ibu, belajar dari pengalaman sosialisasi tersebut Indri menyatakan ia mulai cenderung tertarik pada dunia politik.
"Saya biasanya sosialisasi sambil pengajian keliling majlis ta'lim, mulai dari situ saya bisa dibilang mulai tertarik pada dunia politik," ucapnya. (*)