Breaking News:

Ternyata Segini Jumlah Warga KBB yang Alami Gangguan Jiwa Selama Pandemi Covid-19

Ratusan warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami gangguan jiwa selama pandemi Covid-19

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Mega Nugraha
rebelcircus.com
Ilustrasi pengidap gangguan jiwa 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Ratusan warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami gangguan jiwa selama pandemi Covid-19. Bahkan satu orang di antaranya sempat mengamuk hingga menusuk tiga orang di Kampung Ciwaruga Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan KBB, hingga saat ini tercatat ada 908 orang yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut. Saat ini, mereka sedang mendapat perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Petugas Pengelola Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan KBB, Dewi Setiawati mengatakan, selama pandemi Covid-19 ini, 908 orang yang mengalami gangguan jiwa itu mendapat perawatan rutin sesuai hasil diagnosa masing-masing pasien.

Baca juga: Detik-detik Pria Gangguan Jiwa di KBB Ngamuk, Satu Meregang Nyawa, Dua Lainnya Luka Parah

"Perawatannya dilihat dari tingkat keparahan penyakit, jadi ada yang dirawat di puskesmas dan ada juga yang di rumah sakit," ujarnya saat dihubungi Tribun Jabar, Rabu (13/10/2021).

Ratusan orang yang yang mengalami gangguan jiwa itu penyebabnya berbeda-beda seperti karena faktor biologis, psikologis, dan faktor lingkungan, sehingga perawatannya pun berbeda.

"Sebenarnya kalau orang gangguan jiwa itu kita harus tahu apakah latar belakangnya ada keluarga yang gangguan jiwa atau tidak, karena ini merupakan penyakit yang bisa ditularkan juga," kata Dewi.

Terkait warga Kampung Ciwaruga yang mengamuk hingga menusuk tiga orang, Dewi menyebut pelaku tidak mendapat perawatan hingga menyebabkan emosinya labil.

"Kalau mendapat perawatan kan pasti dalam pemantauan dokter, dan akan diberikan obat penenang. Kalau ini kan, karena memang tidak terpantau dan tidak dalam pengobatan, jadi sewaktu-waktu dia bisa agresif," ucapnya.

Menurutnya, untuk warga Kampung Ciwaruga itu sebetulnya bisa disebut terlambat dalam melakukan penanganan. Seharusnya, keluarga sudah bisa mendeteksi gejala gangguan jiwa tersebut sejak awal.

"Harusnya bisa dideteksi dari awal, karena pasti ada perubahan perilaku, mulai dari mengurung diri dari lingkungan, kemudian ada tingkah laku yang berbeda dengan orang lain, seharusnya keluarga sudah curiga," ujar Dewi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved