Breaking News:

Saluran Irigasi Rusak Parah, Puluhan Hektare Lahan Pertanian di Sukabumi Terancam Gagal Panen

Puluhan hektare lahan pertanian dan palawija di wilayah Desa Semplak, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi terancam gagal panen.

Penulis: Dian Herdiansyah | Editor: Darajat Arianto
tribunjabar
Tanggul Irigasi 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Sukabumi, Dian Herdiansyah

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Puluhan hektare lahan pertanian dan palawija di wilayah Desa Semplak, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi terancam gagal panen.

Sedikitnya 45 hektare lahan yang mengalami kekeringan, akibat jebolnya irigasi disebabkan bencana alam, yang hingga saat ink belum juga mendapatkan bantuan perbaikan.

Kasi Pemerintahan Desa Semplak, Kecamatan Sukalarang, Yayan Suherman mengatakan saat ini warga mengeluh dengan kondisi saluran irigasi Cikadu yang ambruk setelah diterjang longsor pada tahun 2017 lalu. 

Pasalnya akibat dari kondisi itu, puluhan hektare lahan pertanian di wilayah tersebut tidak terairi dengan maksimal karena air tidak sampai ke sawah warga.

"Irigasi ini rusak pada 2017 lalu, akibat bencana saat hujan deras hingga mengakibatkan banjir dan langsung menerjang saluran irigasi. Iya, kalau hujan deras airnya suka meluap hingga tidak kuat menahan debit air, sehingga irigasi jebol. Dampaknya pada petani kalau musim kemarau maka dapat dipastikan akan mengalami kekeringan," ujarnya, Rabu (13/10/2021). 

Saluran irigasi Cikadu ini, selain untuk mengairi lahan pertanian di Desa Semplak, Kecamatan Sukalarang, juga kerap dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam di wilayah Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas. 

Namun, semenjak irigasi tersebut jebol diterjang banjir bandang, lahan pertanian warga tidak bisa dikelola secara maksimal. Lantaran, air dari irigasi tersebut tidak sampai ke sawah warga. 

"Jadi, irigasi ini untuk mengairi lahan pertanian di dua kecamatan. Yakni Kecamatan Sukalarang dan Kecamatan Cireunghas," ujar Yayan.

Akibat rusaknya saluran bendungan ini, telah berdampak pada lahan pesawahan warga menjadi tidak maksimal. Bahkan, jika sudah memasuki musim kemarau tidak sedikit lahan pertanian yang kondisinya retak-retak.

"Kalau musim hujan seperti ini, warga masih bisa bercocok tanam dengan sistem sawah tadah hujan. Itu pun tidak maksimal. Sementara, kalau musim kemarau maka dapat dipastikan lahan disini terlantar. Tetapi ada juga petani yang mengalihkan cocok tanamnya dari tanaman padi ke tanaman palawija atau tanaman yang tidak banyak membutukan pasokan air," katanya. 

Para petani di wilayah tersebut berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi agar saluran bendungan yang jebol segera diperbaiki, agar para petani dapat maksimal dalam mengelola pertaniannya.

"Pemerintah desa juga sudah melaporkan kejadian ini, kepada dinas terkait. Namun, hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan yang jelas diharpaka ada solusi yang baik," ucap Yayan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved