Breaking News:

Ada Ribuan ODGJ yang Seharusnya Dirawat, namun Fasilitas Masih Terbatas

ODGJ hanya bisa mendapatkan perawatan yang tepat jika ditangani para ahli di rumah sakit jiwa.

Penulis: Cipta Permana | Editor: Seli Andina Miranti
dok.pribadi/teddy hidayat
dr Teddy Hidayat-24062021 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - DOKTER Spesialis Kejiwaan RS. Melinda 2, Teddy Hidayat, dr. Sp.KJ(K), sikap agresif ODGJ sejatinya menjadi petunjuk bahwa ODGJ itu belum mendapatkan penanganan dan perawatan yang benar.

ODGJ hanya bisa mendapatkan perawatan yang tepat jika ditangani para ahli di rumah sakit jiwa.

Namun, dari sekitar 7.000 pasien ODGJ di Jawa Barat yang memerlukan rawat inap di rumah sakit jiwa, baru sebagian kecil yang mendapatkannya.

Baca juga: ODGJ di KBB Mengamuk Saat Dibawa Berobat, Tusuk Kakak, Tetangga, dan Ketua RW, Satu Korban Meninggal

Fasilitas layanan yang tersedia yang hanya mampu menampung kurang dari seribu pasien, menjadi salah satu penyebab yang membuat banyak pasien ODGJ yang seharusnya mendapatkan layanan di rumah sakit, terpaksa dirawat oleh keluarganya di rumah.

"Akibatnya, banyak pasien yang tidak terlayani dengan baik akhirnya melakukan tindakan lebih agresif," ujar Teddy saat dihubungi TRibun Jabar, semalam.

Teddy mengatakan, penanganan dan perawatan pasien ODGJ, seharusnya dilakukan oleh fasilitas kesehatan terdekat dengan pasien, yaitu puskesmas.

Artinya, puskesmas harus diberdayakan untuk melakukan deteksi dan mengobati pasien ODGJ.

Dalam pengobatan pasien ODGJ, kata Teddy, kerjasama pihak keluarga, petugas puskesmas, dan pihak rumah sakit juga sangat diperlukan.

"Dalam perawatan pasien ODGJ, pihak keluarga atau caregiver harus mengetahui tanda-tanda pasien akan kambuh dan membahayakan lingkungan sekitarnya. Puskesmas harus melakukan edukasi dan pelatihan penanganan ODGJ secara terus-menerus pada masyarakat, terutama pada keluarga pasien ODGJ agar bisa melakukan tindakan yang tepat saat gejala pasien muncul," ujar dia.

Baca juga: ODGJ dan Lansia Bisa Bikin KTP, Petugas Disdukcapil Kota Bandung Akan Datang ke Rumah, Ini Caranya!

Dalam keadaan darurat, kata Teddy, petugas psikiatri di puskesmas harus mampu melakukan penanganan dini, sebelum melakukan rujukan ke rumah sakit.

"Memang pada akhirnya pasien harus dilakukan perawatan di rumah sakit, terutama jika kondisi gejalanya berat. Jadi kalau ada pasien yang ngamuk seperti ini, dia (psikiatri) di puskesmas harus tahu apa yang harus dilakukan, dan mampu untuk mengamankan kondisi pasien, sehingga tidak membahayakan diri pasien dan orang-orang di sekitarnya," katanya.

(cipta permana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved