Breaking News:

Rentenir Marak, Wakil Wali Kota Bandung Meminta Ruang Gerak Lintah Darat Dipersempit, Ini Caranya

Ini cara dari Wakil Wali Kota Bandung untuk mempersempit ruang gerak rentenir.

tribunjabar/syarif pulloh anwari
Warga di wilayah RW 03, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung membentang spanduk bertuliskan "Rentenir Dilarang Masuk". 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kota Bandung memiliki Satgas Antirentenir dan sempat melakukan focus grup discusion (FGD) di Hotel Savoy pada awal Oktober 2021.

Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana menyebut bahwa rentenir saat ini sudah semakin beradaptasi dengan masa, salah satunya dengan bermodus membuka koperasi simpan pinjam yang isinya ternyata praktik rentenir, termasuk pula pinjaman online.

Dia meminta kepada Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kota Bandung agar mempersempit ruang para rentenir tersebut, salahsatunya menghidupkan koperasi-koperasi kembali untuk simpan pinjam.

"Kami juga mesti dekatkan lagi Bank Bandung serta aktif mempromosikan program ke warga, semisal program pinjam modal usaha. Inilah cara yang bisa menjadi alternatif warga sekaligus lambat laun rentenir akan ditinggalkan," katanya, Selasa (12/10/2021) di Balai Kota.

Yana pun meminta agar diberikan kemudahan dalam proses pinjamannya.

Sebab, rentenir biasanya menggunakan cara kemudahan dalam prosesnya sehingga warga terjebak.

"Biasanya itu, kan, rentenir menagihnya setiap hari. Nah, bagi pedagang jika ditagih sekaligus sebulan Rp 100 ribu terasa berat. Tapi, kalau sehari Rp 5 ribu justru mampu. Padahal, kan kalau ditotal menjadi Rp 150 ribu," ujarnya.

Kepala Dinas KUKM Kota Bandung, Atet Dedi menambahkan selama pandemi ini terjadi peningkatan pengaduan yang didominasi korban pinjaman online.

Mereka sebagian besar terpaksa meminjam karena untuk membuka usaha dan biaya hidup sehari-harinya.

"Kenaikan aduan itu sampai 34 persen. Biasanya dilatarbelakangi membuka usaha dan biaya hidup, pendidikan, sampai kesehatan. Kami tindaklanjutinya dengan memediasi dan mengadvokasi, serta menyelesaikan mandiri hingga kemitraan," ucapnya.

Kondisi pandemi juga, katanya, berdampak pada perekonomian warga salahsatunya pedagang kecil, sehingga ada beberapa yang memilih jalan pintas melalui pinjaman ke rentenir atau pinjol.

Baca juga: Nestapa Ineu, Berjuang Sejak Ibu Tiada, Tercekik Utang Rp 25 M ke Rentenir, Bohong Jadi Korban Begal

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved