Breaking News:

FSP RTMM-SPSI Jabar Tegas Tolak Rencana Pemerintah Naikkan Cukai Rokok

FSP RTMM - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Barat menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2022

dok Kompas.Com
ilustrasi 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pimpinan daerah Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM) - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Barat menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2022 dan menolak rencana pemerintah merevisi PP nomor 109 tahun 2012.

Ketua PD FSP RTMM- SPSI JABAR, Ateng Ruchiat mengaku pihaknya khawatir terhadap kenaikan cukai pada 2022.

Menurutnya, semua telah menyadari bahwa Indonesia belumlah terbebas dari ancaman pandemi dan seluruh industri terkena imbasnya, tak terkecuali industri hasil tembakau (IHT).

Baca juga: Serikat Pekerja Rokok Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Tembakau, Tak Perlu Revisi PP Zat Adiktif

"Kami semua prihatin dan menjaga agar tak terjadi chaos terutama dari sisi ekonomi dan sosial. Kami (FSP RTMM-SPSI Jabar) harus merasakan kekhawatiran yang berulang setiap tahun akibat kebijakan pemerintah di sektor IHT, utamanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau," katanya di Bandung, Jumat (1/10/2021).

Dia juga menyebut pada 16 Agustus lalu, ada kabar bahwa pemerintah menaikkan target penerimaan cukai pada rancangan undang-undang anggaran pendapatan belanja negara (RUU APBN) tahun 2022 sebesar 11,9 persen menjadi Rp 203,92 triliun.

"Kami langsung sampaikan surat tertulis ke pak Presiden dan gubernur bahwa kami khawatir pada nasib para anggota. Kenaikan cukai hasil tembakau pada 2021 secara rata-rata 12,5 persen sudah berdampak pada pekerja di IHT," katanya.

Baca juga: Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Bantu Sejahterakan Petani, Berikan Pelatihan Wira Usaha

Ateng pun di sisi lain mengapresiasi pemerintah lantaran telah memberikan 'nafas' untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan tidak menaikkan tarif cukainya pada 2021.

Sehingga, katanya hal ini perlu dipertahankan, mengingat sudah 10 tahun SKT yang padat karya terus merosot tajam.

"Kami sebagian besae di industri SKT. SKT ini khas Indonesia dan menyerap banyak tenaga kerja. Sekarang ada 243.324 pekerja anggota RTMM, bekerja di IHT ada 153.144 orang, dan di Jabar ada 1.931 orang, sisanya 90.180 orang di industri makanan minuman, serta 25.952 industri pendukung lainnya," katanya 

Ateng mengaku setiap tahunnya anggota mereka yang bekerja di SKT terus alami penurunan kesejahteraan sampai kehilangan pekerjaannya, akibat dari regulasi pemerintah, khususnya kebijakan cukai tahunan, ditambah kondisi pandemi.

"Anggota kami sebagian besar di SKT terpaksa alami kerja shift, karena jumlahnya besar dan sebagian dirumahkan. Jadi, kami dengan tegas menolak setiap kebijakan kenaikan cukai. Sebaliknya, kami harap sektor ini lebih diperhatikan," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved