Detik-detik Penemuan Korban G30S, Lewat Tengah Malam Tercium Bau Tak Sedap dari Sumur Lubang Buaya

Proses penggalian sumur atau lubang tempat para jenderal militer dibuang saat peristiwa G30S/PKI bukan perkara mudah.

Istimewa via Tribun Jogja
Jasad Brigjen Soetojo Siswomiharjo sesaat setelah diangkat dari sumur di Lubang Buaya, 4 Oktober 1965 

TRIBUNJABAR.ID - Proses penggalian sumur atau lubang tempat para jenderal militer dibuang saat peristiwa G30S/PKI bukan perkara mudah.

Sumur tua di Lubang Buaya itu berukuran kecil dan hanya cukup dimasuki satu orang.

Peristiwa berdarah itu memakan korban 10 orang, enam di antaranya merupakan jenderal dan satu perwira. ( sulitnya evakuasi jenazah para jenderal korban G30S/PKI )

Dikutip dari Intisari, detik-detik penggalian tempat pembuangan jenderal diceritakan oleh Maulwi Saelan, pengawal pribadi Presiden Pertama RI Soekarno sekaligus Wakil Komandan Pasukan Tjakrabirawa dalam buku bertajuk 'Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno'.

Presiden Soekarno mengetahui para jenderal diculik pada 1 Oktober 1965 jelang siang hari.

Gugurnya para jenderal militer dalam G30S/PKI membuat Soekarno bersedih.

Maulwi Saelan mengatakan Soekarno sedih karena Jenderal Ahmad Yani yang merupakan jenderal yang amat disayanginya ikut menjadi korban.

"Karena nasib para jenderal dan seorang perwira pertama belum diketahui, Presiden memerintahkan saya untuk mencari tahu nasib mereka," tulis Maulwi dalam bukunya.

Pada 2 Oktober 1965, Presiden Soekarno telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut G30S/PKI.

Tindakan Soekarno tersebut merupakan langkah standar sebab saat itu ia adalah Panglima Tertinggi ABRI.

"Pada tanggal 3 Oktober 1965 pagi, saya menghadap Presiden Soekarno, menyampaikan laporan tentang perkembangan terakhir termasuk penemuan seorang agen polisi,” kata Maulwi.

Setelah mempelajari keterangan seorang agen polisi yang bernama Sukitman, Maulwi bersama Letnan Kolonel Ali Ebram dan Sersan Udara PGT Poniran menumpang Jip Toyota No.2 berangkat menuju Halim Perdanakusuma.

Soekarno
Soekarno ()

Sekadar informasi, ternyata sewaktu penculikan para jenderal pada 1 Oktober 1965, Sukitman sedang bertugas dan ikut dibawa ke Lubang Buaya, yang akhirnya ditemukan oleh patroli Tjakrabirawa.

Mereka terlebih dahulu melapor dan bertemu dengan Kolonel AU/PNB Tjokro, perwira piket Halim Perdanakusuma.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved