Breaking News:

Kisah di Balik Indahnya Gunung Parang Purwakarta, Konon Tempat Kumpul Para Empu di Zaman Padjadjaran

Gunung Parang di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dengan pendakian bertangga besi

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Turis asing menyambangi wisata via verrata Gunung Parang di Desa Cirangkong dan Cihuni Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta, Kamis (29/6/2017). 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Gunung Parang, merupakan gunung yang berlokasi di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Gunung ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata baik lokal maupun mancanegara, dengan pendakian gunung menggunakan tangga besi dan hotel gantung yang iconic di puncak gunung.

Berikut ulasan kisah misteri dibalik indahnya Gunung Parang. Gunung yang didominasi batu dengan ketinggian 983 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini konon memiliki sejarah yang melegenda pada zaman kerajaan Padjajaran.

Juru Kunci Gunung Parang, Wahyudin mengatakan, gunung ini awalnya bernama Gunung Barang Panser Tunggal, dinamai demikian, karena menurut cerita masyarakat, gunung tersebut tempat pembuatan senjata pusaka Prabu Siliwangi. 

"Gunung Parang ini adalah tempat pembuatan benda-benda atau senjata pusaka di zaman kerajaan Padjadjaran, tempat pembuatan atau petapaannya ada di atas," ujar Abah Wahyudin kepada Tribun saat ditemui di kaki Gunung Parang, Selasa (28/9/2021).

Abah Wahyu menjelaskan arti kata gunung barang panser tunggal, yakni, barang berarti benda atau senjata, panser artinya berada di tengah-tengah Jawa Barat dan tunggal artinya satu atau bersatu diantara empu. 

"Di gunung ini ada 5 makam empu, yakni, Mak Eyang Barang, Mak Haji Bengker Buana Sakti, Mak Eyang Cakra Buana, Ibu Dewi Sekarwangi dan Dewi Cahya Sakti," papar Bah Wahyu.

Selain dari 5 empu tersebut, ada tokoh yang pokok dan memiliki sejarah, yakni Raden Surya Kencana yang tak lain adalah cucu dari Prabu Siliwangi.

Di atas gunung juga terdapat benda-benda yang disebut menjadi barang bukti adanya petilasan para empu termasuk Raden Surya Kencana.

"Adanya tumpukan batu menyerupai bantal itu yang disebut petilasan," kata dia.

"Makam Mak Eyang Barang, Dewi Sekarwangi dan Ibu Dewi Cahya Sakti sama patilasan Raden Surya kencana berada di atas yang sekarang pos 4 pendakian. Kemudian makam Mak Haji Bengker Buana Sakti ada di tengah jalur yang sekarang menjadi pos 2 pendakian," ujar Bah Wahyu.

Makam-makam tersebut, kerap menjadi tujuan para peziarah bagi masyarakat di Jawa Barat. Seiring perkembangan zaman, Gunung Parang kini dibangun jadi tempat wisata sejak tahun 2013 silam.

"Bukan hanya jadi tempat ziarah, tapi jadi tempat wisata, tapi sebagian peziarah yang rutin juga ada," imbuhnya.

Selain kisah tersebut, di Gunung Parang juga terdapat Goa Belanda yang juga menyimpan sejarah kelam pada zaman penjajahan.

"Kalau pada zaman Belanda, gunung ini di yakini tempat menyimpan harta benda hasil merampok masyarakat dari para oenjajah Belanda," katanya.

Berdasarkan cerita masyarakat dahulu, Bah Wahyu mengungkapkan ada cerita beragam soal goa tersebut.

"Selain itu, ada yang bilang gunung ini sempat dibuat jalur kereta api, ada yang bilang juga tempat bersembunyi, bahkan katanya di gunung ini sempat jadi incaran penambang intan dan emas," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved