Breaking News:

Soal Raja Angling Dharma, Dedi Mulyadi Mempersilakan Asal Tidak Ada yang Dilanggar

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menilai cerita soal raja dan kerajaan di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya karena selalu menarik.

Editor: Giri
istimewa
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi. 

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menilai cerita soal raja dan kerajaan di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya karena selalu menarik.

 Tidak hanya dari sosok rajanya tapi karya sastra, cerita peperangan, kedermawanan hingga aksi heroik.

Terbaru, ada cerita heboh dengan kemunculan Raja Angling Dharma di Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

"Orang mau ngaku raja silakan, boleh saja. Yang enggak boleh itu ngaku sarjana tapi tidak punya ijazah. Karena sarjana itu lahir dari perguruan tinggi harus ada bukti otentik dia kuliahnya, bikin skripsi, dan itu menjadi persyaratan administrasi," ujar Dedi.

Sementara, jika seseorang mengaku sebagai raja dan membuat kerajaan tidak ada SK pendirian atau pengukuhan.

Berbeda dengan kerajaan lama yang ada di Indonesia seperti Cirebon, Yogyakarta, dan Solo yang secara formal diakui dan secara administratif ada pengakuan dari rakyatnya.

Baginda Sultan Iskandar Jamaluddin Firdaus, pemimpin Kerajaan Angling Dharma Pandeglang, Banten.
Baginda Sultan Iskandar Jamaluddin Firdaus, pemimpin Kerajaan Angling Dharma Pandeglang, Banten. (dok. pengikut Kerajaan Angling Dharma Pandeglang, Ki Jamal)

"Kalau deklarasi jadi raja boleh, enggak dilarang. Yang kemarin dihukum itu karena ada perbuatan pidana, misal pungut iuran untuk kepentingan pribadi. Itu tidak boleh. Masak raja pungut iuran. Kalau pungut iuran bukan raja, tapi preman, namanya," katanya.

Dedi mengatakan, jika Angling Dharma memang telah banyak membangun rumah warga, mengurus anak yatim, dan memperhatikan kehidupan janda tua, itu merupakan hal yang baik.

Terlebih yang dilakukannya tidak merugikan atau melanggar negara.

Bahkan Dedi berharap setiap desa memiliki sosok raja yang memberi keadilan, menjadi problem solver, memiliki rumah tertata dan berarsitektur keren sehingga menjadi tempat kunjungan orang berwisata, lalu menata kampungnya dengan desain arsitektur khas kerajaan, dan membangun tempat pertemuan warga.

"Bayangkan, misal ada lima ribu desa yang punya tokoh kuat dan membangun keadilan, kemakmuran, tidak ada lagi kemiskinan, seluruh rumah dialiri listrik gratis, anak-anak yatim semua sekolah, janda tua setiap hari mendapat beras atau panganan memadai, di desanya rukun tidak ada konflik, saya pikir negeri ini akan cepat maju," ucapnya.

Rumah warga yang dibangun oleh Baginda Jamaludin memiliki ciri khas, yakni bertuliskan Angling Dharma di bagian atasnya.(KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN)
Rumah warga yang dibangun oleh Baginda Jamaludin memiliki ciri khas, yakni bertuliskan Angling Dharma di bagian atasnya.(KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN) ()

"Tapi jangan kebalik. Ada tokoh tapi sukanya ngutip (pungutan), ada tokoh membangun tapi merusak dulu ambil batunya, pasirnya, dan barang bernilai lain di desa itu eksploitasi kemudian dibangun sedikit yang gedenya diambil. Apalagi bagi sedikit kemudian diperlihatkan ke masyarakat umum," ujar Dedi.

Sehingga, Dedi tak mempermasalahkan mengenai keberadaan Angling Dharma yang sejauh ini bernilai positif dan dicintai masyarakat sekitar.

"Jadi menurut saya untuk Angling Dharma tidak ada problem, silakan saja. Mangga. Selagi tidak melanggar hukum dan tidak ada undang-undang yang ditabrak. Karena raja itu kultural ada pengakuan dari rakyat," ujar Dedi Mulyadi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved