Gara-gara Aturan Berpakaian ala Taliban, Wanita Muda Afghanistan Ini Ketakutan akan Masa Depan

Setelah munculnya aturan berpakaian baru ala Taliban, para wanita muda Afganishtan mengungkapkan ketakutan mereka akan masa depan.

Penulis: Magang Tribunjabar | Editor: Hermawan Aksan
Twitter
Foto ilustrasi seorang wanita mengenakan chadari. 

TRIBUNJABAR.ID – Setelah munculnya aturan berpakaian baru ala Taliban, para wanita muda Afganishtan mengungkapkan ketakutan mereka akan masa depan.

Dikutip dari thenationalnews.com, salah seorang wanita muda Afghanistan di Kabul mengungkapkan ketakutannya akan masa depan dan kekhawatiran tentang kebebasan yang harus diperoleh dengan susah payah

Dua hari sebelum Taliban menyerbu kota kelahirannya di Kabul, ibu Faiza Zeerak masing-masing membelikan dia dan saudara perempuannya sebuah chadari.

Wanita berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka akan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh wajahnya.

Sebagai seorang pencinta musik, pendidikan, dan serial TV AS, pekerja sosial ini jatuh ke dalam Generasi Z dan merasa sepenuhnya bertentangan dengan ideologi Taliban yang memperlakukan perempuan sebagai warga negara "kelas dua".

"Ketika saya memakainya (chadari) untuk pertama kalinya, saya merasa sangat sedih. Seolah-olah saya menaruh bungkusan di kepala saya.”

“Saya harus menariknya ke bawah dengan tangan saya untuk melihat melalui jaring kecil di depan," kata Zeerak kepada The Nasional dari rumahnya di Kabul.

Bukan hanya pakaiannya yang ia sesuaikan untuk keselamatannya.

Pada tanggal 15 Agustus, ketika kelompok itu mengambil alih kota, ia meninggalkan pekerjaannya di badan amal yang ia dirikan bersama teman-temannya untuk bersembunyi.

Badan amal Smile for Afghan Kids yang didirikan lulusan Universitas Kabul ini melayani anak-anak jalanan dan yatim piatu.

“Saya kehilangan pekerjaan, saya menghentikan aktivitas yang biasa saya lakukan untuk anak-anak dan remaja."

"Saya tidak bisa melakukan apa-apa! Saya hanya bersembunyi di rumah dan hingga sekarang saya masih seperti tahanan,” ungkap Zeerak.

Lahir pada tahun 1999 di provinsi Baghlan utara dan kemudian pindah bersama keluarganya ke ibu kota, Zeerak adalah bagian dari generasi yang berbeda dari para tetua mereka yang mengalami pemerintahan Taliban 1996-2001, yang kemudian dijatuhkan oleh invasi AS.

Saat itu, musik dilarang dan perempuan dihapus dari kehidupan publik.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved