Breaking News:

Selama PJJ, Banyak Terjadi Kekerasan Terhadap Anak oleh Orangtua yang Stres Dampingi Belajar

Kekerasan terhadap anak di Kabupaten Garut mengalami peningkatan di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
MENGERJAKAN TUGAS - Sejumlah siswa mengenakan masker dan pelindung wajah mengerjakan tugas dari sekolah saat mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Warnet Covid-19 RW 09, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Senin (10/8/2020). Fasilitas warung internet gratis dengan menerapkan protokol kesehatan ini, dihadirkan untuk membantu para siswa dalam mengikuti PJJ sehingga para orang tua siswa tidak perlu lagi khawatir soal kuota internet. 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kekerasan terhadap anak di Kabupaten Garut mengalami peningkatan di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Rahmat Wibawa. 

Menurutnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua terjadi selama proses pembelajaran jarak jauh

"Orangtua melakukan kekerasan terhadap anak dengan verbal atau fisik tapi mereka tidak sadar," ujarnya saat dihubungi, Jumat (17/9/2021). 

Menurutnya saat proses PJJ, orangtua secara tidak sadar membentak anak bahkan melakukan kekerasan fisik berupa cubitan atau jeweran. 

Itu terjadi karena anak tidak selalu fokus terhadap materi pembelajaran sehingga mendapat teguran secara verbal atau fisik dari orangtuanya. Di sisi lain, orangtua tidak punya karakter penyabar seperti guru.

Baca juga: Murid SD di Cianjur Ada yang Lupa Cara Membaca Usai PJJ, Pakar: Ada yang Aneh

"Jadi saat belajar ini, karena biasanya belajar di sekolah dibimbing oleh guru tapi pas di rumah harus dibimbing orang tua. Pas belajar ini kadang anak tidak fokus, momentum itulah yang kemudian menjadikan terjadinya kekerasan terhadap anak. Secara verbal dimarahi atau secara fisik dicubit atau dijewer," ucapnya. 

Pihaknya banyak menerima laporan soal kekerasan terhadap anak yang terjadi saat pembelajaran jarak jauh. Namun kekerasan tersebut tidak terjadi jika anak melakukan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah. 

"Kalau saat anaknya belajar di sekolah, kekerasan terhadap anak tidak terjadi. Tapi saat di rumah, kembali berulang," ungkapnya.

Rahmat menjelaskan kekerasan terhadap anak secara verbal mau pun fisik akan berpengaruh pada psikologis anak. Menurutnya, PJJ juga secara tidak disadari menjadikan anak korban ekploitasi. 

 "Sekarang itu di Garut banyak menemukan badut-badut yang di dalamnya anak-anak. Orang tua menyebut itu kemauannya si anak, tapi mereka menikmati keuntungan dari aktivitas tersebut," ucapnya.

Kegiatan tersebut akan mengganggu aktivitas anak untuk belajar sehingga membuat anak enggan untuk melanjutkan pendidikan. 

"Yang paling utama, karena aktivitas tersebut mereka berpikir untuk tidak melanjutkan pendidikan karena merasa sudah bisa menghasilkan uang, ini yang kita khawatirkan. Kita akan melakukan langkah dengan berkoordinasi dengan pihak terkait menyikapi persoalan ini," ucapnya.(*) 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved