Breaking News:

Relokasi untuk Pabrik Paralon Alot, Sebagian Warga Tak Punya Pilihan Dipindah Karena Masalah Ini

Relokasi warga Kampung Congeang, Desa Cilangkap, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta diwarnai aksi penolakan, kendati demikian warga

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/IRVAN MAULANA
Kondisi Kampung Congeang, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta yang terimbas gusuran untuk pembangunan Pabrik Paralon, Rabu (15/9/2021) 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Relokasi warga Kampung Congeang, Desa Cilangkap, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta diwarnai aksi penolakan, kendati demikian warga tak punya kekuatan hukum untuk menolak.

Sebelumnya diketahui, puluhan kepala keluarga di Kampung Congeang akan direlokasi karena lokasi yang mereka tempati akan dibangun pabrik paralon oleh PT Lifelon Jaya Makmur.

Salah satu warga Kampung Congeang, Emay (50) mengatakan, dia tak bersedia direlokasi karena ia merasa mendiami rumah tersebut sudah lebih dari 25 tahun lamanya.

"Saya pas datang kesini kosong, tanah ini masih hutan, saya tau ini tanah negara dan saya juga gak bayar pajak, tapi saya gak mau pindah," ujar Emay ketika ditemui Tribun dikediamannya, Rabu (15/9/2021).

Ia mengaku sudah ditawari uang sebesar Rp 10 juta dan tanah ganti relokasi yang berlikasi tak jauh dari kediamannya.

Kendati demikian, Emay tetap menolak meninggakkan lahan seluas 400 meter persegi yang ditempatinya tersebut, karena Emay berpendapat bahwa, uang Rp 10 juta tak cukup untuk membangun rumah barunya.

"Saya gapapa bayar pajak, yang penting saya gak dipindah, kita ini orang miskin makanya bangun rumah di tanah negara, pemerintah seharusnya melindungi kita, saya pengen disini aja," kata dia.

PT Lifelon Jaya Makmur juga memberikan keterangannya, ketika itu di lokasi pihaknya sedang silaturahmi dan memantau proses relokasi di Kampung Congeang.

Perwakikan PT Lifelon Jaya Makmur Agus Luki mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan sosialisasi dan selebaran sebulan sebelum warga direlokasi.

"Kami  sudah silaturahmi, selebaran juga sudah dibagikan di bulan Agustus lalu, ganti rugi dan proses serah terima juga sudah kami urus," kata Agus di sela-sela meninjau rumah warga yang akan direlokasi.

Agus mengungkapkan, memang belum semua warga mau menerima uang ganti rugi untuk direlokasi, pihaknya masih melakukan pendalaman dalam proses negosiasi.

"Yang belum menerima memang masih ada, hanya yang sudah menerima sebanyak 25 kepala keluarga itu kami sudah sediakan lahan relokasinya, bahkan uang pembayaran ganti rugi sudah tuntas," kata dia.

Diketahui uang ganti rugi rumah yang akan direlokasi nilainya variatif disesuaikan dengan kondisi rumah, "Untuk permanen kami berikan Rp 15 juta, yang semi permanen di angka Rp 10 juta paling kecil Rp 7,5 juta," ujarnya.

"Beberapa warga sudah meninggalkan, kita juga kasih batas waktu sebulan lebih, sekarang kita silaturahmi lagi untuk melihat proses relokasi, kita juga dikejar waktu," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved