Breaking News:

Cina Janjikan 100 Ribu Senapan Hingga Bom Nuklir, Sebelum G30S Ada Pembicaraan antara Aidit dan Mao

Di masa perang dingin itu, partai yang pro-Cina di dunia hanya PKI dan Partai Komunis Albania.

Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Adityas Annas Azhari
wikipedia
Perdana Menteri Cina Zhou Enlai, Presiden Soekarno, dan Ketua delegasi Jepang Kawashima pada saat Peringatan 10 Tahun Konferensi Asia Afrika, 19 April 1965. 

SETELAH Orde baru berkuasa di bawah Soeharto, hubungan diplomatik Republik Indonesia (RI) dengan Republik Rakyat Cina (RRC) putus pada 1967. Padahal semasa Soekarno berkuasa hubungan terseut sangatlah dekat bahkan tercipta poros Jakarta-Beijing.

Rezim Soeharto menganggap Cina yang saat itu di bawah kekuasaan Mao Zedong menjadi penyokong Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituding sebagai dalang peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

Menurut Orde baru ulah PKI yang membuat peristiwa G30S ini sebagai upaya kudeta berdarah, terbukti dengan terbunuhnya enam jenderal dan satu letnan pada malam jahanam 30 September-1 Oktober 1965.

DN Aidit (kiri) memberikan burung cenderawasih yang sudah diawetkan pada pemimpin China, Mao Zedong
DN Aidit (kiri) memberikan burung cenderawasih yang sudah diawetkan pada pemimpin China, Mao Zedong (indonesia-zaman-doeloe.blogspot.co.id)

Akibat peristiwa G30S 1965 tersebut hubungan diplomatik RI-RRC dibekukan pada 30 Oktober 1967 dan baru dibuka kembali secara resmi 8 Agustus 1990.

Kecurigaan terhadap keterlibatan Cina dan PKI dalam G30S bermula saat kunjungan Menteri Luar negeri RI, Subandrio ke Tiongkok pada akhir Januari 1965. Dalam pertemuan dengan Subandrio, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan 100.000 pucuk senapan jenis Chung kepada RI. Penawaran ini gratis tanpa syarat dan oleh Soebandrio kemudian dilaporkan ke Bung Karno.

Baca juga: Sebelum DN Aidit, Ini Sosok Lama PKI, Pernah Ketemu Petinggi di Moskow, Sempat Adakan Pemberontakan

Saat itu Indonesia juga dalam suasana konfrontasi dengan Malaysia. Pemerintahan Soekarno menganggap Malaysia sebagai negara bentukan Inggris yang merupakan ancaman kolonialis (Barat) bagi Indonesia. Sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap Malaysia dan kekuatan Barat (Inggris dan Amerika Serikat) yang mendukungnya, Indonesia keluar dari PBB pada 7 Januari 1965.

Tentu saja Cina yang mewaspadai dan mengkhawatirkan ancaman Barat saat itu menginginkan Indonesia tidak jatuh pada kolonialis Barat.

Karena itulah seperti dilansir dari buku G30S dan Asia dalam Bayang-bayang Perang Dingin (Penerbit Kompas, 2016), Sejarawan asal Universitas Nanyang Singapura, Taomo Zhou, mengatakan, Tiongkok mendorong Soekarno membentuk angkatan kelima - yang oleh PKI diusulkan untuk mempersenjatai buruh tani- karena melihat makin meningkatnya agresi Barat di Asia Tenggara.

Baca juga: Kisah Putra DN Aidit, Ditinggal Ayahnya Saat Malam G30S, Berhari-hari di Pengasingan Menanti Kabar

Konfrontasi RI-Malaysia sejak 1964 yang kian memanas dan hubungan Indonesia dengan Inggris dan Amerika Serikat yang memburuk membuat Zhou Enlai menegaskan Cina tidak akan berpangku tangan jika Indonesia diserang kolonalis Barat.

Bantuan Cina terhadap Indonesia bukan sekadar senjata, tapi juga janji membantu Indonesia dalam pengembangan senjata nuklir.

Baca juga: Detik-detik Anak DN Aidit Tinggalkan Rumah Setelah G30S/PKI, Berpikir akan Bertemu Orangtuanya Lagi

Soekarno pada Kongres ke-36 Muhammadiyah di Bandung Juli 1965 bahkan mengatakan, "Insyaallah Indonesia dalam waktu dekat ini kita akan memiliki bom atom sendiri. Bom atom bukan untuk mengagresi bangsa atau negara lain tapi sekadar untuk menjaga kedaulatan tanah air kita dari gangguan tangan-tangan jahil; akan kita gunakan jika kita diganggu atau diserang".

Soekarno berbincang dengan Mao Zedong, 24 November 1956, di Beijing, Cina
Soekarno berbincang dengan Mao Zedong, 24 November 1956, di Beijing, Cina (Wikipedia)

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved