Breaking News:

Harga Umbi Porang di Ciamis Jatuh Sampai Rp 5.000/kg, Diduga Ada Gangguan Ekspor ke China

Jatuhnya harga umbi porang di tingkat petani tersebut diperkirakan dampak dari terganggugnya ekspor chip porang ke China.

Penulis: Andri M Dani | Editor: Tarsisius Sutomonaio
TRIBUN JABAR/ANDRI M DANI
Ilustrasi- Petani menunjukkan umbi porang (Amorphophalus muelleri) yang dipanen di Blok Purut, Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Cijeungjing, Ciamis, Sabtu (30/5). Masyarakat di Blok Purut mulai banyak yang menanam porang karena potensinya menjanjikan secara ekonomi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Pada pekan kedua September ini harga umbi porang di tingkat petani di Ciamis turun drastis ke angka Rp 5.000/kg. Padahal, selama Juni dan Juli lalu, harga umbi porang masih Rp 7.500/kg.

Jatuhnya harga umbi porang di tingkat petani tersebut diperkirakan dampak dari terganggugnya ekspor chip porang ke China.

Ekspor chip secara nasional tidak bisa langsung ke China, tetapi terpaksa lewat negara lain terlebih dahulu seperti Thailand maupun Myanmar.

“Katanya ada gangguan ekspor ke China. Pabrik di Semarang hanya menerima chip sampai September ini. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap harga chip dan harga umbi porang di tingkat petani di Ciamis," ujar H Ihsan Kamil, petani porang yang juga penampung umbi porang di Ciamis kepada Tribun Jabar, Minggu (12/9/2021) siang.

Menurut H Ihsan, pada bulan Juni-Juli lalu harga umbi porang di Ciamis masih di kisaran Rp 7.500/kg. Kemudian pada awal Agustus turun jadi Rp 7.000/kg. Pertengahan Agustus harga porang masih Rp 6.800/kg.

Baca juga: Cerita Petani Umbi Porang di Ciamis, Saat Harga Turun, Mereka Malah Masih Untung hingga 50 Persen

“Setelah itu memasuki bulan September ini anjlok langsung ke angka Rp 5.000/khkatanya.

Jatuh drastisnya harga umbi porang, menurut H Ihsan, juga disebabkan panen serentak pada musim ini. Dan areal tanam porang terus bertambah di berbagai daerah termasuk di Ciamis.

Meski hargha umbi porang jatuh sampai Rp 5.000/kg, menurut H Ihsan tidak membuatnya kapok bercocok tanam porang.

“Tidak kapok, sekarang sudah tanam 5 hektare di Gegempalan dan Rancah. Total 250.000 benih porang sudah ditanam. Lima hektare lagi sedang dipersiapkan lahan untuk ditanam,” ujar Ihsan.

Soal jatuhnya harga porang, ucap H Ihsan, perlu dihadapi dengan bersabar.

“Jatuh bangun soal harga hasil bercocok kan sudah biasa. Tidak hanya tanaman porang, tapi juga tanaman lainnya seperti cabai dan sebagainya,” katanya.

Setelah itu kalau harga lagi jatuh, petani lebih baik tidak memanen umbi porangnya. Biarkan saja, panennya nanti pada saat harga sudah bagus. Untuk menekan biaya produksi katanya, pakailah benih sendiri, baik itu darri benih katak maupun benih umbi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved