Breaking News:

BMKG Ingatkan Tsunami Non Tektonik Berpotensi Terjadi di Daerah Ini, Ada Jejak Tanah Longsor Ke Laut

Dwikorita Karnawati menyebut wilayah Pulau Seram, Maluku Tengah memiliki potensi bahaya tsunami non tektonik

Editor: Siti Fatimah
Image by Elias Sch. from Pixabay
Ilustrasi gelombang tsunami. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut wilayah Pulau Seram, Maluku Tengah memiliki potensi bahaya tsunami non tektonik (tsunami yang bukan disebabkan gempa-red) yang cukup besar.

Dikutip dari laman resmi BMKG, hasil penelusuran dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG di Pulau Seram menunjukkan bahwa sepanjang garis pantai pulau tersebut merupakan laut dalam dengan tebing-tebing curam yang sangat rawan longsor.

"Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami," ungkap Dwikorita di Pulau Seram, Minggu (5/9).

Baca juga: Baru Saja Gempa Guncang Buru, Maluku, Kekuatannya 5 Skala Magnitudo tapi Tak Berpotensi Tsunami

Dalam kunjungannya ke Pulau Seram, Dwikorita menyambagi Negeri Samasuru, Negeri Amahai, Kota Masohi, dan Negeri Tehoru.

Di daerah tersebut, selain melakukan verifikasi peta bahaya dan menyusuri jalur evakuasi, Dwikorita dan tim BMKG bersama BPBD setempat, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, dan Peneliti dari LIPI dan Badan Geologi juga secara langsung mendengar kesaksian dan cerita warga tentang terjadinya gempa dan tsunami masa lalu.

"Di Negeri Tehoru saya melihat langsung jejak tanah yang longsor ke laut. Di Samsuru, warga setempat bahkan telah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas bibir pantai. Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter," terangnya.

Baca juga: Memetik Pelajaran dari Tsunami Selat Sunda dan Letusan Gunung Krakatau

Dwikorita mengatakan, hingga saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi tsunami non tektonik secara cepat, tepat dan akurat.

Sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara di dunia adalah sistem peringatan dini tsunami akibat goncangan gempa bumi.

Ilustrasi
Ilustrasi (Tribunnews.com)

Selama ini, kata dia, yang bisa dilakukan adalah memantau muka air laut dengan buoy atau tide gauge.

Namun, cara tersebut kurang efektif karena sifat alat yang baru bisa menginformasikan usai kejadian tsunami. Jadi saat alat tersebut memberikan warning sudah terlambat, tsunami sudah datang.

Baca juga: BPBD Nilai Sirine Tsunami di Pesisir Palabuhanratu Sukabumi Tidak Maksimal, Tidak Kedengaran

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved