Breaking News:

Siswa dan Guru Senang Bukan Kepalang pada Hari Pertama PTM Terbatas di Kota Bandung

"Seneng banget bisa sekolah lagi. Soalnya kalau belajar di rumah kita kesulitan buat praktik, karena kan tidak bisa

Editor: Tarsisius Sutomonaio
TRIBUNJABAR.ID/Cipta Permana
Situasi pemantapan kesiapan PTMT bagi pendidik, tenaga pendidikan, dan satgas penanganan covid-19 sekolah, di SDN 263 Rancaloa, Kota Bandung, Rabu (8/9/2021) 

TRIBUNJABAR.ID- Kegembiraan begitu terasa pada hari pertama pembelajaran tatap muka (PTM) di SMKN 9 Kota Bandung.

Meski masih serba terbatas, para siswa antusias mengikuti pelajaran praktik, sesuatu yang hampir dua tahun ini tak bisa mereka jalani karena pandemi Covid-19.

Pembelajaran raktik memang menjadi kendala paling besar bagi para siswa, terlebih mereka yang menuntut ilmu di sekolah kejuruan.

Dini Wulandari, siswi kelas XI SMKN 9 Bandung, juga merasakan betul hal itu. Itu sebabnya, ketika PTM akhirnya benar-benar dimulai, ia mengaku senang bukan kepalang.

"Seneng banget bisa sekolah lagi. Soalnya kalau belajar di rumah kita kesulitan buat praktik, karena kan tidak bisa semuanya bisa dikerjakan secara jarak jauh, apalagi kita yang sekolah di SMK," kata Dini, yang saat ditemui Tribun Jabar, kemarin, sedang menjalani pembelajaran praktik tata kecantikan rambut di kelasnya.

Selama belajar di rumah, kata Dini, ia dibantu oleh keluarga, teman, dan para tetangganya. Merekalah yang kerap menjadi objek penataan rambutnya jika ada kelas praktik.

Baca juga: PTM di Bandung Barat Digelar 20 September Mendatang, Disdik Masih Data Sekolah yang Sudah Siap

Hal serupa dikatakan Hasna Nabila, siswi kelas XII Tata Busana di SMKN 9 Bandung. Ia mengatakan belajar daring membuatnya kerap kesulitan untuk bertanya saat tak mengerti dengan pembelajaran yang diberikan gurunya.

"Sekarang akhirnya bisa praktek lagi, jadi enggak susah lagi kalau mau bertanya. Saya harap sih bakalan terus dibuka sekolahnya karena siswa kesulitan kalau belajar di rumah terus," ujarnya.

Selain soal praktik belajar, siswa lainnya, Muhamad Refi, mengaku pembelajaran daring juga membuatnya sering mendapat kesulitan karena keterbatasan kuota internet.

"Susah-susah gampang kalau belajar jarak jauh itu, karena terbatas kuota dan sinyal. Kalau sekarang sekolah dibuka lagi, ya seneng banget. Bisa ketemu temen, bisa semangat lagi sekolah buat belajar," ujar siswa kelas XII Perhotelan SMKN 9 itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved