Breaking News:

Demam Tinggi Tak Turun Meski Minum Obat, Bisa Jadi Terkena Badai Sitokin, Ini Gejala Lainnya

Ciri-ciri khusus pada badai sitokin biasanya adalah demam tinggi yang sulit diturunkan dengan paracetamol, menggigil, sesak, dan gagal nafas. 

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Siti Fatimah
EYE OF SCIENCE/SCIENCE SOURCE/SCIENCE NEWS
Gambar badai sitokin yang diperoleh dari mikroskop elektron. Badai sitokin dipicu oleh sel-sel imun seperti macrophages (gambar sel paling besar di tengah) dan leukosit (gambar sel-sel yang lebih kecil). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di masa pandemi covid-19, badai sitokin menjadi hal yang harus diwaspadai karena mampu merenggut nyawa penderitanya.

Hingga saat ini, pasien penderita Covid-19 yang teserang badai sitokin, akan mengalami fase yang cukup buruk, salah satunya adalah kesulitan bernafas.

Melalui program Tribun Health, Kepala UPT Puskesmas Pasirkaliki, dr, Debborah Johanna Rattu, MH., Kes. MKM, mengatakan, memang tidaklah mudah mendeteksi apakah pasien mengalami badai sitokin atau tidak di kasus Covid-19.

Baca juga: Wajib Tahu, Orang dengan Kondisi Ini Rentan Alami Badai Sitokin, Bisa Berujung Kematian

"Ketika terjadi badai sitokin kecil biasanya mengalami masalah pernafasan dan kalau covid itu terjadi di organ paru-paru. Oleh karena itu ketika ada gangguan ke pernafasan, jadi ada kelainan paru-paru juga sehingga harus ada perhatian lebih dibandingkan lainnya," ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Ciri-ciri khusus pada badai sitokin biasanya adalah demam tinggi yang sulit diturunkan dengan paracetamol, menggigil, sesak, dan gagal nafas. 

Selain itu terjadi juga saturasi oksigen akan menurun, begitu pula dengan kesadaran, penderita juga akan mengalami kejang, nyeri otot, mual, dan muntah.

Baca juga: Apa Itu Badai Sitokin? Reaksi Berlebihan Sistem Imun Tubuh, Gejalanya Bisa Ringan hingga Mematikan

Bagi pasien orang tanpa gejala Covid-19 pun bisa saja mengalami badai sitokin, oleh karena itu dokter Debborah mengingatkan ketika isolasi mandiri di rumah juga harus dalam pengawasan dokter.

"Badai sitokin itu terjadi setelah 10 hari covid, lalu muncul gejala demam tingggi. Jadi, ketika badan sudah merasa enakan dan malah panas tinggi, sesak, sudah pasti fasilitas kesehatan akan merujuk ke rumah sakit," ujarnya.

Untuk ditangani di rumah sakit, Debborah juga menuturkan ada sistem rujukan di Kota Bandung yang harus melalui satu sistem.

Mulai dari melakukan pelaporan apakah rumah sakit tersebut bisa menerima pasien apa tidak.

"Jika angkanya penuh, tentu akan bingung juga mau disimpan dimana. Jadi kita lakukan sistem rujukan dan tahu rumah sakit mana yang kosong. Kadang, banyak pasien yang tidak mengaku kalau dia covid, jadi sebaiknya kalau keadaan sudah parah langsung ke emergency," ujarnya.

Baca juga: Efeknya Berbahaya, Apa Itu Badai Sitokin? Sebabkan Kematian Pasien Covid-19, Ini Cara Meredamnya

Namun ada juga beberapa kasus yang hasil pemeriksaan PCR atau swab dinyatakan negatif , tapi bisa terkena badai sitokin.

Hal ini bisa terjadi karenam dalam waktu 10 hari, peperangan antara sistem imun dan virus masih berlanjut.

"Karena sitokin masih terus berperang dalam tubuh, padahal virusnya sudah menurun, maka muncul badai sitokin," ungkapnya.

Oleh karena itu, Debborah mengingatkan pentingnya konsultasi ke dokter penanggung jawab untuk dilakukan pemantauan pada pasien covid-19.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved