Breaking News:

Buka Peluang Pasar yang Lebih Luas Lewat Fashion Syar'i

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI Jatim) telah bersiap menggelar event tahunan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2021

Editor: bisnistribunjabar

SURABAYA - Bank Indonesia (BI) terus mendorong pengembangan industri halal di Indonesia. Dengan target Indonesia tidak hanya sebagai konsumen produk halal, tapi juga produsen yang bisa masuk ke pasar global.

"Bisa didapat dari produk fashion dan halal food dan wisata halal," kata Harmanta, Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur.

Salah satu kegiatan yang bisa mendorong pengembangan industri halal tersebut adalah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) yang tahun 2021 ini merupakan penyelenggaraan tahun ke-8.

Menurut Harmanta, penyelenggaraan FESyar 2021 masih berlangsung secara hybrid, antara online dan offline. Hal ini tak lepas dari kondisi pandemi yang belum selesai.
Dengan tema "Bersinergi Membangun Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Memperkuat Momentum Pemulihan Ekonomi Melalui Konektivitas Wilayah", FESyar 2021 diharapkan bisa membuka peluang pasar yang luas.

"Apalagi perkembangan penjualan produk halal di dunia mencapai 1,17 triliun dolar AS di tahun 2015 lalu dan tahun ini diprediksi tumbuh mencapai 1,91 triliun," jelas Harmanta.

Pasar produk halal tidak lagi terbatas di negara mayoritas muslim, tapi sudah berkembang di negara non muslim dan jadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Seperti di Korea dan Thailand.

"Bahkan Brazil sudah tercatat sebagai pemasok daging unggas halal terbesar di Timur Tengah, dan Malaysia sudah dengan visinya menjadi pusat industri halal dan keuangan syariah global," beber Harmanta.

Sementara Indonesia dengan sumber daya yang luas baik manusia maupun bahan baku serta corak dan ragamnya, punya potensi yang besar. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta dengan 85 persen muslim, selalu menarik untuk menjadi pasar bagi produk halal. "Namun tidak hanya pasar, tapi juga produsen. Potensinya cukup besar," ujar Harmanta.

Dari data yang ada, khusus fashion muslim, Indonesia merupakan konsumen terbesar ketiga di dunia. Konsumsi fashion muslim Indonesia diperkirakan mencapai 21 miliar dolar AS dan konsumsi fashion muslim dunia diprediksi bisa mencapai 402 miliar dolar AS di 2024.

"Nah ini menjadi tantangan tersendiri. Apalagi dimasa pandemi saat ini dimana fashion juga terdampak dari adanya pembatasan kegiatan," ujar Harmanta.
Karena itu, perlu dukungan teknologi untuk bisa memperluas dan mempertahankan industri fashion Indonesia untuk tetap bergerak. Dengan teknologi, pasar tidak lagi terbatas.

"Nah dengan MOTION Competition ini diharapkan bisa membuka jalan untuk pengembangan potensi tersebut," tandas Harmanta.(rie)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved