Breaking News:

Angka Prevalensi Stunting di KBB Turun, Tapi Berpotensi Meningkat Lagi Akibat Pandemi Covid-19

Pada tahun 2020 lalu, berada di angka 13,76 persen, sedangkan pada tahun 2021 ini menurun menjadi 10,98 persen.

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Hengky Kurniawan saat memberikan sambutan terkait penanganan stunting. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Angka prevalensi stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita di Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada tahun ini mengalami penurunan, tetapi dengan adanya pandemi Covid-19 berpotensi kembali meningkat.

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan KBB, pada tahun 2020 lalu, berada di angka 13,76 persen, sedangkan pada tahun 2021 ini menurun menjadi 10,98 persen.

"Tentu pandemi Covid-19 yang kita hadapi sudah hampir dua tahun ini berdampak pula terhadap peningkatan stunting," ujar Pelaksana Tugas Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan saat ditemui di Parongpong, Selasa (9/7/2021).

Baca juga: Yuk Ikut Lomba Video Peduli Cegah Stunting Berhadiah Puluhan Juta Rupiah, Ini Syarat dan Jadwalnya

Oleh karena itu, kata Hengky, seluruh stakeholder harus terlibat dalam melakukan penanganan stunting atau tak hanya Dinas Kesehatan saja, tetapi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan pihak swasta juga harus terlibat.

"Stunting di Kabupaten Bandung Barat hampir sama dengan Covid-19, kami serius menangani. Ini adalah komitmen Pemkab Bandung Barat," kata Hengky.

Menurutnya, penanganan stunting di Bandung Barat akan terus dimonitor secara berkala. Apalagi, pada tahun depan akan dibangun command center di Bandung Barat agar data stunting dapat terus terpantau perkembangannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat Eissenhower Sitanggang mengatakan, untuk penanganan stunting ini ada bantuan keuangan untuk puluhan desa, di antaranya di Desa Ciburuy dan Desa Gunungmasigit.

Baca juga: Stunting pada Anak Tak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Dicegah, Begini Caranya

"Jadi banyak juga CSR yang kasih, kami harapkan ini turun terus," ucapnya.

Namun, kata dia, yang menjadi masalah adalah, pada masa pandemi Covid-19 ini banyak orang yang kena PHK, sehingga tidak mudah untuk menangani stunting tersebut.

"Karena faktor ekonomi keluarga turut memengaruhi. Makanya tidak boleh hanya peran dari Dinas Kesehatan," kata Eisen.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved