Breaking News:

Tak Hanya Punya Perpustakaan, Bah Udju Juga Ternyata Menabung Uang Pensiun Untuk Mendirikan PAUD

Dijuluki pegiat literasi, Bah Udju kakek berusia 74 tahun yang rutin berkeliling sepeda ke kampung-kampung membawa buku bacaan untuk mengedukasi anak

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/IRVAN MAULANA
Bah Udju sedang membereskan ruang belajar di dalam gedung PAUD miliknya, Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Minggu (5/9/2021). 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Dijuluki pegiat literasi, Bah Udju kakek berusia 74 tahun yang rutin berkeliling sepeda ke kampung-kampung membawa buku bacaan untuk mengedukasi anak-anak, sering mendapatkan berbagai penghargaan, bahkan ia mampu merintis sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bersama sang adik.

Bah Udju yang bernama asli Djudju Djunaedi tokoh pegiat literasi asal Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta merupakan sosok pejuang literasi yang terbilang cukup gigih dalam mengabdikan diri.

"Awal mula pendirian PAUD itu dibantu almarhum adik saya, waktu itu dia punya lahan sedikit ingin dimanfaatkan," ujar Bah Udju ketika ditemui di kediamannya, Minggu (5/9/2021).

Diektahui sebelumnya, Bah Udju merupakan seorang penggiat literasi yang rutin berkeliling kampung meminjamkan buku bacaan dari tahun 1988 hingga sekarang. Kisahnya telah memancing berbagai kalangan termasuk pemerintah untuk memberikan pengahargaan dan sumbangan.

"Saya mulai punya perpustakaan tahun 1990, disitu mulai banyak sumbangan buku dan media belajar, termasuk sepeda, kalau dihitung sudah ada 8 sepeda, cuma sepeda-sepda yang gak kepake saya kasihkan ke anak yatim," kata dia.

Awal mula berinisiatif mendirikan PAUD, ia merasa banyak sumbangan media belajar yang tidak termanfaatkan dengan maksimal, saat itu ia mulai mengumpulkan anak-anak disekitatan rumahnya yang belum mampu membaca dan menghitung untuk mengajar rutin dari siang hari hingga sore sepulang sekolah.

"Dari tahun 2005 itu kita belum ada PAUD, sifatnya hanya belajar saja dirumah saya, saat itu kita mulai ngumpulin biaya hasil nabung saya sama adiknya, selama 3 tahun, kita mulai bangun sekolah PAUD di tahun 2008," katanya.

Tabungan uang pensiun Bah Udju selama 3 tahun tersebut, kini menjadi sebuah bangunan PAUD berdindingkan bilik bambu, meski nampak sederhana bangunan PAUD tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang.

"Karena cuma ada satu ruangan, kita buka dua kelas, satu kelas 15 anak itu pagi, jam 9 selesai dilanjut kelas kedua," ujar Bah Udju.

Seperti tak terkikis dimakan zaman, bangunan serta peralatan media belajar PAUD Bah Udju masih dipertahankan hingga kini, papan tulisnya saja masih berwarna hitam, dengan dinding sekolah berhiaskan manik2 kertas karton hasil karya siswa PAUD nya.

PAUD yang didirikan Bah Udju mulai diresmikan legalitasnya pada penghujung tahun 2009, ia menerima berkas peresmian PAUD tersebut pada upacara 17 Agustus di halaman Kantor Bupati Purwakarta.

"Berkas peresmian dan piagam penghargaan diserahkan langsung oleh pak Bupati zaman pak Dedi Mulyadi,  saat itu saya juga diberikan tambahan 1 sepeda dan piagam penghargaan," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved