Breaking News:

Kisah Perpustakaan Saba Desa Bah Udju, Dibantu Mahasiswa KKN Tahun 1990 yang Raih Banyak Penghargaan

Awal mula Djudju Djunaedi seorang kakek penggiat literasi punya perpustakaan, berawal dari pertemuan ia dengan mahasiswa KKN.

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/IRVAN MAULANA
Penghargaan yang telah diraih Perpustakaan Saba Desa milik Bah Udju di Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Minggu (5/9/2021). 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Awal mula Djudju Djunaedi seorang kakek penggiat literasi punya perpustakaan, berawal dari pertemuan ia dengan mahasiswa KKN.

Saat itu, Djudju Djunaedi atau yang kerap disapa Bah Udju, sedang berkeliling membawa buku bacaan dengan sepedanya.

Ketika ditemui dikediamannya, Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta pada Minggu (5/9/2021) Bah Udju bercerita, di satu kampung, ia bertemu dengan beberap orang mahasiswa asal Universitas Padjadjaran (Unpad) saat sedang mengayuh sepeda menggendong buku, dari situ para mahasiwa asal Bandung tersebut tertarik lalu mengikuti Bah Udju.

"Saya ketemu di Desa Darangdan, terus mahasiswa itu ngikutin saya. Pas berhenti saya ditanya para mahasiswa, katanya abah lagi apa. Saya bilang lagi keliling ngasih buku buat dibaca, terus mereka mau ikut kerumah abah," kata Bah Udju.

Setibanya di rumah Bah Udju, para mahasiswa itu bertanya tentang kegiatan yang sudah dilakukan Bah Udju selama hampir dua tahun itu, kemudian para mahasiswa yang sedang KKN di Desa Darangdan tersebut tertarik ingin membantu Bah Udju.

Anak-anak membaca di Perpustakaan Saba Desa milik Bah Udju di Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Minggu (5/9/2021).
Anak-anak membaca di Perpustakaan Saba Desa milik Bah Udju di Kampung Ngenol, Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Minggu (5/9/2021). (TRIBUNJABAR.ID/IRVAN MAULANA)

"Saya ditawari pendirian perpustakaan, waktu itu saya berpikir kalau yang bisa mendirikan perpustakaan cuma pemerintah. Tapi berkat mereka, saya dibantu mendirikan perpustakaan dan izinnya juga diurus para mahasiswa," kata dia.

Mulai saat itu, sekitar pertengahan tahun 1990 Bah Udju punya perpustakaan resmi yang diberi nama Perpustakaan Saba Desa atas inisiasi para mahasiswa KKN asal Unpad tersebut.

"Yang ngasih nama Perpustakaan Saba Desa ya mereka, Abah katanya tinggal tunggu, kita udah urus dan dikasih nama Perpustakaan Saya Desa. Karena abah sering berkeliling," katanya

Sejak tahun 1990 itu, Bah Udju memiliki perpustakaan resmi dengan nama yang diberikan sesuai dengan aktivitasnya. Dari situ nama Bah Udju kian meroket, ia bahkan kerap kali menerima berbagai pengahargaan dari pemerintah daerah maupun Kementrian Pendidikan. (*)

Baca juga: Tak Hanya Punya Perpustakaan, Bah Udju Juga Ternyata Menabung Uang Pensiun Untuk Mendirikan PAUD

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved