Breaking News:

Daripada di Ruang Publik, Wali Kota Bandung Sarankan Bikin Mural di Gang Setiap RW

Wali Kota Bandung, Oded M Danial menanggapi maraknya mural bernada kritikan ke pemerintah. Dia meminta mural dibuat di gang RW saja.

Tangkapan layar YouTube
Lurah Baros Agus Irwan SIP menunjukkan mural sederhana bertema Awas Corona Waspada DBD di sebuah dinding rumah warga di RW 05 Baros. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung, Oded M Danial menanggapi maraknya mural bernada kritikan ke pemerintah.

Sebelumnya, di Kota Bandung terdapat mural yang menyerupai gambar Presiden RI Joko Widodo. Lalu, terbaru ada kritikan terhadap Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri.

Oded tak mempermasalahkan fenomena ini. Tetapi, Oded M Danial meminta para pengkritik itu harus melakukan dengan cara-cara yang beretika.

"Kalau ada yang mencurahkan isi hati lewat tulisan atau gambar. Saya kira selama kritiknya masih membangun tak masalah asal beretika," katanya di Pendopo, Rabu (1/9/2021).

Kritik yang baik, lanjutnya, tak akan berujung pada kebaikan jika disampaikan dengan cara yang tak baik. Dia meminta agar setiap kritik yang baik bisa disampaikan dengan cara yang baik pula agar tujuannya tercapai.

Baca juga: Mural Kritik kepada Pemerintah di Karawang Tiba-tiba Hilang, Jangan Panik Ini Cuma Mural

"Kepada siapa pun yang masih lakukan aksi vandalisme dengan corat-coret fasilitas publik, lebih baik buat mural di kewilayahan seperti (di gang) RW. Saya lihat di setiap RW sudah bagus setiap gang mural-muralnya," ujarnya.

Jangan Baper

Gubernur Jabar Ridwan Kamil minta seniman mural jangan sampai tersinggung atau mengeluh jika karya mural yang dibuat ditertibkan atau ditutup mural lainnya.

Ia menyebut hal itu sudah biasa dalam seni mural, seni perkotaan yang didukungnya sejak menjadi Wali Kota Bandung.

"Dalam perspektif saya, mural adalah seni ruang publik yang temporer. Ada umurnya. Pelaku mural harus paham dan jangan baper, karena karyanya suatu hari akan hilang. Bisa tersapu hujan, dihapus aparat ataupun oleh hilang ditimpa pemural lainnya. Mari berdialog," kata Ridwan Kamil di akun Instagramnya, seperti dikutip pada Rabu (1/9/2021).

Kritik dalam mural, harus segera didialogkan antara pelaku mural dengan pihak-pihak lainnya seperti seniman dan pemerintah. Apapun, katanya, selalu memiliki aturan dan batasannya.

"Kita ini harus berdialog, dalam merumuskan 'batas'. Batasan mana yang boleh dan pantas, mana yang tidak boleh dan tidak pantas. Di dunia digital pun, tidak semua dari kita paham, mana itu 'kritik' argumentatif mana itu 'buli/shaming'," katanya.

Ia pun menyebutkan sejumlah etika dalam berkarya. Ia mengatakan bahwa orang yang berkarya dan berjiwa besar selalu membicarakan gagasan, tetapi orang berjiwa kerdil membicarakan atau menggosipkan orang.

"Seperti saat lalu lintas kita dibatasi di lampu setopan, kebebasan ekspresi pun dibatasi, oleh nilai kesepakatan budaya dan kearifan lokal. Itulah kenapa isu mural kritik kelihatannya masih berada di ruang abu-abu," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved