Breaking News:

Bayi-bayi di Jatiluhur Kerap Menangis Malam Hari, Janji Ada Kompensasi Tapi Hanya Ini yang Didapat

Cerita Masyarakat Tegalnangklak, Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta yang hidup di bawah bayang-bayang ancaman longsor akibat

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNJABAR.ID/IRVAN MAULANA
Anak-anak di Kampung Tegalnangklak, Jatiluhur, Purwakarta kerap menangis tengah malam terkena imbas kebisingan pembangunan proyek kereta cepat, Minggu (29/8/2021) 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Cerita Masyarakat Tegalnangklak, Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta yang hidup di bawah bayang-bayang ancaman longsor akibat pembangunan proyek kereta cepat.

Tiap malam bayi-bayi selalu menangis sulit tidur akibat kebisingan pembangunan mega proyek nasional tersebut, bahkan uang kebisingan yang dijanjikan pihak kontraktor hanya menjadi bualan pembujuk rayu para warga.

Nurhayati (50) salah satu warga Tegalnangklak, ketika ditemui Tribun pada Minggu (29/8/2021). Ia sedang menyapu debu yang terbawa angin dari aktivitas alat berat proyek pembangunan kereta cepat.

"Kalau tiap hari emang berisik, kan ini 24 jam. Anak bayi sering nangis," ujar Nurhayati kepa Tribun.

Ia juga mengungkap sebelum dimulainya pembangunan mega proyek nasional tersebut, warga disana dijanjikan uang kebisingan per bulan untuk ganti rugi dampak kebisingan yang ditimbulkan pengerjaan proyek.

"Dulu pernah kita dikasih tau katanya buat satu rumah Rp 100 ribu, tapi sampai sekarang udah mau setahun tetap gak ada," kata dia.

Nurhayati mengatakan akibat pembangunan aktivitas 24 jam, yang menimbulkan getaran dan kebisingan cucunya yang berusia 3 tahun kerap kali terbangun.

"Itu kalau lagi jalan suara ekskavator itu kan bising, suara truk yang bolak-balik, cucu saya bangun terus nangis hampir tiap malam," ujarnya.

Kondisi tersebut tidak hanya menimpa keluarga Nurhayati, rumah warga lain di kampung karena terletak dekat dengan lokasi pembangunan mengalami dampak yang sama.

Nurhayati berharap pihak developer punya rasa kemanusiaan.

"Kami juga sama masyarakat kalau sekiranya merugikan kami juga punya perasaan, jangan cuma janji, uang Rp 100 ribu sebenarnya gak cukup apa-apa buat kami. Kita bosen mau ngadu kemana lagi," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved