Breaking News:

INNALILLAHI, Sastrawan Budi Darma Meninggal Dunia, Tetap Produktif Menulis hingga Usia Senja

Pada akhir Juli lalu Budi Darma beserta istrinya dirawat di RS Soetomo akibat terpapar Covid-19. Demikian juga putra dan asisten rumah tangganya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Tribunnews.com
Sastrawan Budi Darma 

Ibunya bernama Sri Kunmaryati lahir di Rembang tahun 1909.

Karena tugas yang diemban ayahnya, Budi Darma sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti ayahnya, antara lain di Bandung, Yogyakarta, dan Semarang.

Budi Darma mulai menulis tahun 1969 meskipun sebelumnya sudah pernah menulis.

Selain dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis dalam bahasa Inggris.

Beberapa cerita pendeknya yang ditulis dalam bahasa Inggris dimuat di berbagai media massa yang terbit di Indiana, Bloomington, Amerika Serikat, tetapi ia mengakui sudah tidak mempunyai dokumennya.

Tulisan Budi Darma dimuat tersebar di beberapa majalah, antara lain Budaja (Yogyakarta), Basis (Yogyakarta), Contact (Yogyakarta), Gama (Yogyakarta), Gadjah Mada (Yogyakarta), Gema Mahasiswa (Yogyakarta), Indonesia (Jakarta), Roman (Jakarta), Tjerita (Jakarta), Forum (Jakarta), dan Gelora (Surabaya) serta surat kabar Minggu Pagi (Yogyakarta), Berita Nasional (Yogyakarta), Tanah Air (Semarang), Kontak (Surabaya), dan Djawa Post (Surabaya).

Di samping itu, ia juga pernah mengisi siaran mengenai sastra dan budaya di RRI (Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya) dan TVRI (Surabaya).

Kesenangan membaca yang dimiliki Budi Darma diperkirakan ditularkan oleh ibunya.

Orang tua Budi Darma, terutama ibunya, memiliki tradisi membaca yang baik untuk ukuran zamannya.

Jenis bacaan yang amat dikenal dan dikuasai ibunya adalah cerita wayang dan mitologi Jawa.

Dari kesenangan membaca yang ditularkan ibunya inilah Budi Darma akhirnya juga gemar membaca.

Selain itu, ketika berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Budi Darma tinggal di rumah pamannya, yaitu Prof. Mr. Notosusanto (ayah Prof. Dr. Nugroho Notosusanto).

Diskusi ilmiah yang sering dilakukan dengan pamannya itu telah membuka dan memperluas cakrawala keilmuan Budi Darma.

Dari kesenangan membaca itulah muncul keinginan ia untuk menulis sebagai wujud pengendapan proses pembacaan yang dilakukannya.

Sumbangan Budi Darma kepada kemajuan kehidupan sastra sangat besar.

Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma selain beberapa kali menjadi pembimbing cerpenis, esais, dan novelis muda dari Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera tahun 1998 (cerpen), 1999 (esai), 2000 (novel), 2003 (cerpen), 2004 (esai), 2005 (novel), 2008 (cerpen).

Dia juga pernah ditunjuk sebagai pakar kesusastraan bandingan dalam jajaran keanggotaan pakar Mastera Indonesia.

Budi Darma juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Karyanya yang berupa novel dan sudah diterbitkan adalah (1) Olenka (1983), (2) Ny. Talis (1996), dan (3) Rafilus (1988).

Kumpulan cerita pendeknya yang sudah dibukukan antara lain Orang-Orang Bloomington (1980).

Selain itu, ada karyanya yang berbentuk esai juga sudah diterbitkan, yaitu (1) Solilokui (1983), (2) Sejumlah Esai Sastra (1984), (3) Harmonium (1996), dan Fofo dan Senggring (2005).

Budi Darma menerjemahkan The Legacy karya Intsi V. Himanyunga (1996, Yayasan Obor).

Dia juga menulis karya nonsastra, yaitu Sejarah 10 November 1945, (terbit tahun 1987, Pemda Jatim), Culture in Surabaya (terbit tahun 1992, IKIP Surabaya), Modern Literature of ASEAN (Editor Kepala, 2000), dan Kumpulan Esai Sastra ASEAN (Asean Committee on Culture and Information).

Beberapa karya Budi Darma yang berbentuk cerita pendek pernah ditransformasi dalam bentuk drama, yaitu "Orez" (dipentaskan mahasiswa ISI Yogyakarta) dan "Kritikus Adinan" (dipentaskan mahasiswa STSI Bandung).

Novelnya Olenka memperoleh Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Naskah Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1980.

Novel itu juga memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta sebagai novel terbaik 1983.

Tahun 1984 ia memperoleh penghargaan Sea Write Award dari pemerintah Thailand atas karyanya yang berjudul Orang-Orang Bloomington.

Anugerah Seni diperolehnya dari pemerintah Indonesia pada tahun 1993.

Budi Darma tercatat sebagai anggota Modern Language Association (MLA), New York, 1977—1990.

Tahun 1982/1983 namanya tercatat dalam buku Who's Who in The World.

Kegiatan Budi Darma sebagai cerpenis masih berlangsung hingga dasawarsa 1990-an dan 2000-an.

Beberapa cerita pendeknya memperoleh penghargaan dari Kompas dalam beberapa kali penerbitan cerita pendek Kompas terbaik.

Cerpennya yang berjudul "Derabat" menjadi judul buku kumpulan cerita pendek terbaik Kompas tahun 1999 dan Budi Darma menyandang sebutan penulis cerita pendek yang setia hingga usia senja.

Menurut Teeuw (1989:200), Budi Darma ialah pengarang yang menghasilkan karya yang bersifat absurd, seperti yang tampak pada "Kritikus Adinan" (Horison, 1974). (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved