Habib Bahar dan Ryan Jombang Dimasukkan ke Satu Sel, Ahli Psikologi Forensik: Itu Berbahaya!

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel tidak setuju jika Habib Bahar dan Ryan Jombang dimasukkan ke satu sel yang sama.

Editor: Hermawan Aksan
Dok. Ditjenpas Kemenkumham
Ryan Jombang dan Habib Bahar bin Smith ditengahi Kalapas Gunung Sindur Mujiarto dalam sebuah foto usai keduanya berdamai setelah perselisihan di dalam Lapas, Kamis (19/8/2021) 

TRIBUNJABAR.ID - Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel tidak setuju jika Habib Bahar dan Ryan Jombang dimasukkan ke satu sel yang sama, demi terciptanya silaturahmi dari kedua belah pihak.

Menurut Reza, baik Bahar maupun Ryan bukan orang biasa yang hidup bertetangga di sebuah kampung halaman yang sama.

"Jangan lupa, subjek yang diperbincangkan ini bukan orang biasa yang hidup bertetangga di kampung halaman yang sama di wilayah yang elok dan permai dengan siulan burung yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain di pagi hari," kata Reza dalam keterangannya kepada Tribunnews.com, Jumat (20/8/2021).

Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel
Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel (Tangkap layar kanal YouTube Baitul Maal Hidayatullah)

Perlakuan terhadap Bahar dan Ryan harus diselenggarakan secara spesifik dan optimal, sesuai dengan hasil penakaran risiko dan kebutuhan masing-masing.

Berdasarkan hasil penakaran risiko dan kebutuhan, Reza pun menggolongkan Bahar sebagai napi berisiko rendah dan Ryan sebagai napi berisiko tinggi.

Menurut Reza, menyatukan dua orang napi dengan tingkat risiko yang berbeda bukanlah langkah yang bisa dibenarkan.

Tingkat pengamanan kepada mereka juga harus dibedakan, yakni dengan melakukan pengamanan maksimal bagi napi yang berisiko sangat tinggi.

"Perlakuan terhadap Bahar dan Ryan harus diselenggarakan secara spesifik dan optimal sesuai hasil penakaran risiko dan kebutuhan."

"Menyatukan dua napi, padahal mereka memiliki dua tingkat risiko yang berbeda sangat tajam, bukanlah langkah yang terbenarkan."

"Tingkat pengamanan terhadap mereka pun harus dibedakan, dengan pengamanan maksimal dikenakan bagi napi yang berisiko sangat tinggi," ungkap Reza.

Reza mengungkapkan, memasukkan napi berisiko rendah dan napi berisiko tinggi justru dikhawatirkan akan menghilangkan efek rehabilitasi.

Terutama rehabilitasi yang sudah berlangsung pada napi berisiko rendah.

Selain itu, membiarkan napi berisiko rendah dan napi berisiko tinggi untuk berinteraksi langsung di dalam satu sel yang sama akan bisa membahayakan keselamatan napi berisiko rendah.

"Menyatukan napi berisiko rendah dan napi berisiko tinggi ke dalam satu sel justru dikhawatirkan akan menghilangkan efek rehabilitasi yang sudah berlangsung pada diri napi berisiko rendah."

"Membiarkan mereka 'bersilaturahmi' di ruang sel yang sama bahkan membahayakan keselamatan napi yang berisiko rendah," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved