Empat Perbedaan Teks Proklamasi Versi Tulis Tangan Soekarno dan Diketik Sayuti Melik, Ini Sejarahnya

Terdapat perbedaan teks proklamasi tulis tangan dan versi diketik. Teks proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno lalu diketik oleh Sayuti Melik.

Istimewa via Kontan
Teks proklamasi tulisan tangan Soekarno. 

TRIBUNJABAR.ID - Terdapat perbedaan teks proklamasi tulis tangan dan versi diketik.

Teks proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno lalu diketik oleh Sayuti Melik.

Pembacaan teks proklamasi dibacakan Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945.

Adapun empat perbedaan teks proklamasi versi tulis tangan dan diketik.

Sejarah perumusan teks proklamasi dimulai saat pihak Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di tanggal 15 Agustus 1945.

Baca juga: Foto Penampakan Teks Proklamasi Asli Tulisan Tangan Soekarno, Ada Kata yang Dicoret dan Diubah

Golongan muda yang mengetahui kabar tersebut dari siaran Radio BBC milik Inggris, mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memanfaatkan situasi dengan menyatakan proklamasi.

Namun, dwitunggal menolak karena belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Jepang.

Mengutip laman Kemdikbud, golongan tua berpendapat, lebih baik menunggu sampai 24 Agustus, yakni tanggal yang ditetapkan Marsekal Terauchi untuk waktu kemerdekaan Indonesia, ketika menerima Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat di Dalat, Vietnam.

Pada 15 Agustus 1945, para pemuda dibawah pimpinan Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana bersepakat untuk mengamankan dwitunggal bersama Ibu Fatmawati dan Guntur ke Rengasdengklok, dengan harapan agar mereka menuruti keinginan para pemuda.

Namun, sepanjang hari 16 Agustus 1945 itu, tidak tercapai kesepakatan apapun.

Baca juga: 4 Peristiwa yang Terjadi Sebelum Proklamasi, Jepang Menyerah Pemuda Manfaatkan Momen Culik Soekarno

Hingga sorenya, Ahmad Soebardjo datang dan berusaha membujuk para pemuda untuk melepaskan dwitunggal.

Akhirnya mereka bersedia dengan jaminan oleh Soebardjo bahwa proklamasi akan terjadi esok hari.

Malam itu juga, rombongan berangkat ke Jakarta, menuju rumah Laksamana Maeda di Meiji Dori No. 1 untuk membahas masalah tersebut.

Setibanya di sana, tuan rumah menjelaskan permasalahan dan informasi yang sebenarnya terjadi.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved