Breaking News:

Sejarah Sumedang

Menengok Rumah Pengasingan Pahlawan Asal Aceh Cut Nyak Dien di Sumedang, Asri, Berbahan Kayu Jati

Ini rumah pengasingan Cut Nyak Dien ketika dibuang oleh Belanda ke Sumedang.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Plang foto rumah yang menjadi tempat tinggal Cut Nyak Dien di Sumedang. Cut Nyak Dien adalah pahlawan asal Aceh yang ditangkap Belanda kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. 

Dia sendiri adalah buyut KH Ilyas, tokoh agama di Sumedang yang pada tahun 1908, menerima rombongan Cut Nyak Dien yang beranggotakan empat orang.

Bagian depan dan halaman rumah pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang.
Bagian depan dan halaman rumah pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Leluhur saya berkisah, ketika Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, dalam keadaan mata yang sudah rabun, dia digendong oleh Agam (bujang), dan diterima di rumah ini," kata Nenden, saat ditemui TribunJabar.id, di rumah tinggal Cut Nyak Dhien, Sabtu (7/8/2021). 

Namun, katanya, hingga generasi ibunya, tak ada orang mengenal siapa sesungguhnya perempuan yang di akhir hidupnya mengajarkan membaca Alquran kepada warga di seputar wilayah Kaum Sumedang itu. 

Nenden hanya mendapati kisah bahwa perempuan itu sering dipanggil Ibu Suci atau Ibu Prabu. 

Karenannya, sebelum tahun 2003, ketika Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), rumah itu dianggap sebagai rumah biasa, bukan rumah pengasingan seorang Pahlawan Nasional. 

Bahkan, bangunan asli sebelum dilakukan pemugaran, nyaris roboh. Bagian paling kanan dari rumah itu condong ke barat dan ditahan sebongkah kayu. 

"BPCB yang mencari. Berdasarkan data yang mereka miliki, diakurasi dengan kesaksian sesepuh di sini, kemudian situsnya juga ada, dipugarlah bagunan rumah ini, dikembalikan ke bentuk aslinya," kata Nenden.

Rumah itu dipugar pada tahun 2009.

Kini, rumah yang diberi Surat Keputusan (SK) sebagai situs sejarah itu, terbuka untuk siapa saja yang datang dengan maksud ziarah atau hanya menimba informasi. 

Peziarah bahkan mencapai ratusan orang dalam sebulannya, sebelum Pandemi Covid-19 melanda. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved