Breaking News:

Feature

Nadi Kehidupan Perajin Benang Gelasan Kutamandiri Sumedang di Tengah Pandemi,Sehari Dapat Rp 75 Ribu

DI lanskap terbuka di Desa Kutamandiri, Aep Kupluk (46) terlihat sangat serius memperhatikan bentangan benang berwarna mencolok mengambang di udara. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Engkos Koswara (30), saat dijumpai di lapak pambuatan gelasan di Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (31/7/2021).  

Yang mengerjakan ini hingga memberi cap dan mengepak ke dalam plastik satu lusinan adalah kaum perempuan. 

Soal upah, tetap sama bersifat borongan.

Misalnya di dalam pengepakan, jika satu orang bisa mengepak kelos kecil ke dalam seratus lusin pak, baru dia mendapat Rp 15 ribu. 

Kokon (56), sang pemilik usaha pembuatan gelasan itu mengatakan dia termasuk beruntung, sebabnya, masih ada permintaan gelasan dari toko-toko besar di Bandung, di Pemalang, dan sejumlah kota lainnya di Pulau Jawa.

"Meskipun sesungguhnya selama pandemi ini permintaan gelasan turun 50 persen," kata Kokon seraya menyebut usaha pembuatan gelasan itu telah ia rintis sejak 1999.

Dahulu sangat dahulu, pada awal pandemi, mungkin belum terasa olehnya kesulitan seperti sekarang ini. 

Sebab, sekalipun order berkurang, sejumlah pemain layangan dari Bogor dan beberapa kota lain sengaja datang ke Kutamandiri untuk membeli gelasan terbaik. 

Wajar saja, gelasan Kokon sempat ekspor ke Pakistan.

"Paling jauh, penjualannya ke Pakistan, sekarang sepi. Harus mengatur pengeluaran, mana ada yang datang langsung. Semua gerak dibatasi," katanya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved