Breaking News:

Masih Ada Anak di Sumedang Jadi Korban Kekerasan, Pelakunya Sering Orang Terdekat

Ketika ada anak yang bermasalah, solusinya jangan sampai memindahkan anak tersebut dari sekolah.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: taufik ismail
Kemeneg PP & PA
Hari Anak Nasional (HAN) diperingati pada tanggal 23 Juli 2021. Temanya pada tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #AnakPedulidiMasaPAndemi. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan angka kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Pasalnya, kasus kekerasan terhadap anak di kabupaten tersebut masih  terjadi.

Informasi yang dihimpun TribunJabar.id dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumedang, tercatat ada 7 kasus kekerasan terhadap anak sejak Januari 2021 lalu.

Wakil Ketua P2TP2A Sumedang, Retno Ernawati menyebutkan, berdasarkan data yang dilaporkan ke P2TP2A, kasus kekerasan terhadap anak di Sumedang tidak terjadi kenaikan yang signifikan.

Namun, kata Retno, di Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Polres Sumedang datanya lebih bisa menggambarkan.

Sebab, ujar dia, yang melaporkan ke P2TP2A biasanya yang membutuhkan pendampingan psikologi.

"Hingga saat ini, sebanyak 7 kasus yang masuk ke P2TP2A Sumedang. Dari 7 kasus tersebut itu tidak semuanya kekerasan seksual, ada kasus persekusi anak, perkosaan, pelecehan seksual, dan hak asuh anak," ujar Retno saat dihubungi TribunJabar.id melalui pesan singkat, Jumat (23/7/2021) malam.

Retno mengatakan, lemahnya ketahanan keluarga menjadi salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak di Sumedang.

Menurutnya, pada dasarnya anak harus dilindungi, baik di rumah maupun di sekolah, dan di tempat-tempat umum lainnya, termasuk di transportasi umum.

Selain itu, kata dia, kasus kekerasan terhadap anak sering dilakukan justru oleh orang-orang terdekat.

Minimal orang-orang terdekat yang seharusnya melindungi, dan membuat aman anak di lingkungan keluarga, sekolah dan tempat umum itu merupakan PR  bersama.

"Orang tua harus kooperatif, sekolah harus berperan aktif. Kalau ada anak bermasalah solusinya anak harus pindah sekolah, itu cara yang sebaiknya tidak diambil," tuturnya 

"Sekolah yang keren adalah sekolah yang mampu mendampingi siswanya di saat senang dan susah, begitu juga orang tua dan kerabat dekat. Jangan jadi figur yang ditakuti anak, jadilah figur yang bisa menjadi tumpuan anak bila ada masalah," kata Retno.

Baca juga: Masih Ingat Arul Anak 13 Tahun Jadi Ajudan Kapolres? Didatangi Kedua Orang Tua di Momen Ini

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved