Breaking News:

Bagaimana Cara Kita Tahu Sudah Sembuh dari Covid-19 dan Tidak Menularkan Lagi? Ini Penjelasan Dokter

bagaimana cara kita tahu jika benar-benar sudah sembuh dan tidak akan menularkan orang lain?

Editor: Ravianto
DOK Suryati Kepala Puskesmas Padaherang
Puskesmas Padaherang, Kabupaten Pangandaran melayani pasien positif Covid-19. 

Misalnya, setelah sakit tifus atau demam berdarah, badan seseorang baru bisa kembali fit setelah dua atau tiga minggu kemudian.

Beberapa penyakit bahkan butuh satu sampai dua bulan.

Ini karena "tentara" tubuh kita habis berperang dengan penyakit itu sendiri, menurut dr Ning.

"Jadi dalam kondisi virusnya sudah tidak ada, rasa lelah dari 'tentara' itu kan masih ada, jadi butuh pemulihan juga," katanya.

Dalam konteks COVID-19, kondisi ini dikenal sebagai 'long COVID'. Dalam infeksi lain, bahasa awamnya adalah masa pemulihan.

Beberapa gejalanya adalah kelelahan, napas pendek, 'brain fog' atau kesulitan konsentrasi, dan rasa cemas berlebih.

Apakah kondisi saya bisa kembali normal setelah positif COVID-19?

"Hipotesanya, akan bisa membaik," kata dr Ning.

"Cuma membaiknya berapa lama, apa yang harus dilakukan, itu tidak ada jawabannya sekarang."

Kebanyakan penyintas mengalami 'long COVID' hingga 12 minggu, namun beberapa bisa sampai sembilan bulan.

"Long COVID ini memang masih misteri," kata dr Ning.

"Semuanya masih tanda tanya dan belum detil."

Namun, sebuah penelitian di Inggris yang belum diterbitkan dalam jurnal, menemukan bahwa vaksin dapat mengurangi gejala long COVID pada penyintas.

"Makanya kalau di luar negeri justru orang-orang long COVID mengejar vaksinasi, karena banyak yang mengalami perbaikan setelah divaksin," ujarnya.

"Tapi ini sifatnya masih laporan kasus, belum di-research betul-betul."

Mungkinkah tertular COVID-19 lagi setelah sembuh?

Jawaban dr Ning singkat, padat, dan jelas.

"Sangat mungkin," jawabnya.

"Selama virus di sekitar masih banyak, ya bisa tertular lagi."

Banyak orang mengecek antibodi setelah vaksin, perlukah?

Dokter Ning tidak melarang orang yang baru divaksinasi untuk mengecek kadar antibodi mereka.

Namun, menurutnya, kegiatan ini "tidak mengubah apa-apa".

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan hasil tes antibodi SARS-CoV-2 tidak seharusnya dijadikan patokan untuk mengevaluasi tingkat kekebalan imun seseorang terhadap COVID-19, terutama setelah menerima vaksin.

Ini karena penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan.

Menurut dr Ning, ketika divaksinasi, kekebalan yang diharapkan muncul tidak hanya antibodi, melainkan juga kekebalan sel.

Walau tidak kalah pentingnya, kekebalan sel tidak dapat diukur, berbeda dengan antibodi.

Namun, belum ada kepastian mengenai berapa batas antibodi yang dapat dibilang protektif untuk COVID, kata dr Ning.

"Apakah kalau semakin tinggi terlindungi? Belum tentu juga," katanya.

"Sepuluh itu juga sudah protektif. Cuma sepuluh itu sudah protektif untuk Hepatitis B, dan proteksinya bisa 10 sampai 15 tahun."

Jadi, tes antibodi tidak seharusnya membuat seseorang menyimpulkan apakah mereka sudah cukup terlindungi.

"Siapa tahu nanti kalau sudah diteliti ternyata [untuk COVID] kita cuma butuh titer yang 10 saja. Yang 200, 300, 10 ya sama-sama terlindungi."(ABC/TRIBUNNEWS)

Jangan lupa juga baca penjelasan soal kenapa sudah divaksinasi masih bisa tertular, benarkah obat yang banyak disebutkan di grup WhatsApp bisa menyembuhkan COVID, dan bahayanya menyebarkan informasi COVID bagi keselamatan keluarga.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved