Pungli Pemakaman Covid 19

Tulis Surat, Pelaku Pungli Pemakaman Jenazah Covid-19 di Bandung Kembalikan Uang ke Yunita Tambunan

Redi Krisnayana (35), bekerja sebagai pekerja harian lepas (PHL) Distaru Kota Bandung, disebut-sebut sebagai pelaku pungli pemakan Covid-19

Editor: Mega Nugraha
Twitter Ridwan Kamil @ridwankamil
Ridwan Kamil memberikan bantuan moril dan logistik untuk petugas pemakaman Covid-19 di Garut, Jawa Barat. 

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Sosok pria di Kota Bandung bernama Redi Krisnayana (35), sehari-hari bekerja sebagai pekerja harian lepas (PHL) Distaru Kota Bandung, disebut-sebut sebagai pelaku pungli pemakaman jenazah Covid-19 pada keluarga Yunita Tambunan, pada 7 Juli 2021 dini hari.

Redy Krisnayana kemudian menulis surat pernyataan berisi kronologi kejadian. Dia juga menyampaikan permintaan maaf. Surat tertulis itu diterima Tribun dari Fajar Ifana, Koordinator Tim Pikul Jenazah Covid-19 di TPU Cikadut Bandung.

Baca juga: Pungli TPU Cikadut, Awalnya Saat Tak Ada Tukang Gali Makam dari Distaru di Pemakaman Non Muslim

"Saya Redy Krisyana memohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga ahli waris. Saya mewakili tim pikul meminta maaf. Biaya yang sudah disepakati akan saya kembalikan Rp 2,8 juta, bila ahli waris merasa keberatan," ucap Redy Krisnayana dalam surat tulisan tangan berisi pernyataan yang diterima Tribun.

Di surat dijelaskan, Redy sudah memberitahu bahwa tidak ada lubang liang lahat di pemakaman Covid-19 non muslim. Akhirnya, keluarga Yunita Tambunan meminta Redy untuk menggali dengan kesepakatan ada biaya harus dibayar yakni Rp 2.8 juta.

surat tulisan tangan
surat tulisan tangan (Dok Tim Pikul)

"Dengan rincian, biaya gali liang lahat RP 500 ribu, pembelian salib padung Rp 300 ribu, biaya makan tim 23 orang Rp 500 ribu dan jasa pikul peti jenazah Covid-19 Rp 75 ribu sampai Rp 85 ribu," kata dia.

Koordinator Tim Pikul Jenazah Covid-19, Fajar Ifana, menerangkan, jenazah yang datang pada 6 Juli, termasuk jenazah keluarga Yunita Tambunan, saat itu, sebanyak 35 orang.

"Saat itu, kondisi di TPU Cikadut jenazah Covid-19 yang dikirim untuk dimakamkan sampai 36 orang. Alat berat untuk menggali makam adanya hanya di pemakaman khusus Covid-19 yang muslim, di non muslim tidak ada alat berat sehingga harus digali manual," ucap Fajar Ifana, dihubungi via ponselnya, Minggu (11/6/2021).

Di sisi lain, pada malam dini hari itu, tidak ada satupun petugas gali dari UPT TPU Cikadut berada di pemakaman non muslim. Yang ada hanya warga luar yang biasa membantu.

"Saat itu di lokasi pemakaman non muslim tidak ada tukang gali dari UPT TPU Cikadut karena banyak yang sakit. Yang ada dari kami tim pikul yang piket malam 7 orang dan dari warga luar. Akhirnya makam digali oleh warga luar," kata Fajar.

Baca juga: Distaru Kota Bandung Sebut Pelaku Pungli di TPU Cikadut Digaji Pemerintah, Tidak Pernah Telat

Biaya RP 2,8 juta yang dikeluarkan Yunita Tambunan itu, untuk membiayai penggalian makam di pemakaman Covid-19 non muslim karena tidak adanya petugas gali resmi dari pemerintah.

"Uang yang dibayarkan itu untuk mereka yang menggali, beli padung dan uang makan semuanya sebanyak 23 orang. Kalau ada pertanyaan kenapa memakamkan banyak orang, ya karena sebelumnya jenazah yang dikirim untuk dimakamkan sangat banyak," kata Fajar.

surat pernyataan maaf
surat pernyataan maaf (Dok TIm Pikul)

Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Yunita Tambunan soal uang Rp 2,8 juta tersebut termasuk menjelaskan kronologinya. Dia membantah soal pemakaman di non muslim tidak gratis.

"Sudah saya jelaskan dan sudah kami kembalikan uangnya. Sama sekali enggak ada diskriminasi, ada salah paham. Yang pasti, di pemakaman khusus Covid-19 non muslim saat itu tidak ada backhoe dan tidak ada petugas gali," ucap Fajar. 

Pengakuan Yunita Tambunan

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved