Indonesia Bisa Kurangi Impor 40 Persen Kalau Punya Industri Soda Abu

Padahal bahan baku cukup melimpah di Tanah Air. Kebutuhan akan soda ash ini pun cukup besar, hingga 1,2 juta ton per tahun, dan akan terus meningkat,”

TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi PT Kaltim Parna Industri (KPI). PT KPI berencana untuk membangun pabrik soda ash di Bontang, Kaltim yang bisa menyerap 2.000 tenaga kerja. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Soda abu atau soda ash, selama ini menjadi satu di antara komponen dasar kimia yang sangat dibutuhkan industri di Indonesia. Soda abu menjadi bahan deterjen dan produk turunannya hingga lembar kaca.

Namun, Indonesia belum memiliki industri atau manufacturing plant soda ash sendiri. Karena itu, Indonesia harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. 

“Padahal bahan baku cukup melimpah di Tanah Air. Kebutuhan akan soda ash ini pun cukup besar, hingga 1,2 juta ton per tahun, dan akan terus meningkat,” ujar Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri, Hari Supriyadi, melalui diskusi secara virtual, Sabtu (10/7/2021).

Kebutuhan soda abu ini, katanya, akan meningkat lagi karena diperlukan juga untuk baterai mobil listrik sebagai bahan bakunya. Seperti diketahui, industri otomotif di Tanah Air pun semakin menggeliat.

"Potensi bahan baku di Indonesia ada. Rencananya dibangun dengan kapasitas 300 ribu. Ini, bisa mengurangi impor 30-40 persen. Kami ingin wake up call dan menyadarkan kalau Indonesia mampu swasambada soda abu," katanya.

Menurutnya, untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat akan perlunya pembangunan industri soda ash di dalam negeri, pihaknya bekerja sama dengan Panitia 80 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, menggelar Kompetisi Esai Nasional bertajuk Industri Soda Ash di Indonesia.

Baca juga: Masih impor, Indonesia Berpeluang Membangun Industri Kimia Soda Ash

 “Selain sebagai wadah sosialisasi akan industri soda ash dan manfaatnya, acara ini diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan industri di dalam negeri, yang akhirnya membantu meningkatkan ketahanan industri kimia nasional,” kata Hari. 

Menurur Hari, pihaknya perlu masukan dari akademisi dan praktisi industri di Indonesia ini untuk bagaimana dapat memiliki industri yang sementara ini belum ada di Indonesia. 

"Maka kami sangat menghargai dukungan ITB, Kementerian Perindustrian, Persatuan Insinyur Indonesia dan para peserta lomba Esai yang kebanyakan dari kalangan milenial," katanya. 

Ketua Umum Panitia 80 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Tirto Prakoso Brodjonegoro, mengatakan lomba esai digelar mulai 8 Mei 2021 lalu berhasil menarik 217 peserta, baik individu atau pun kelompok, yang berasal dari berbagai kalangan, yaitu pelaku industri, masyarakat umum dan pelajar. 

“Peserta yang ikut, memang cukup antusias. Dari hasil seleksi terhadap 82 esai yang masuk, terpilih 5 finalis yang pada babak final ini akan memperebutkan total hadiah 100 juta rupiah,” kata Tirto.  

Ricky Wargakusumah selaku panitia lomba mengatakan dengan kompetisi ini, ia berharap bisa menyampaikan  kebangkitan industri kimia di Indonesia. Karena, walaupun pabrik pupuk ada tapi masih bergantung impor

"Masih banyak pekerjaannya, bagaimana kalau kita tidak bisa impor soda ash, akan makin terasa kehilir dalam kondisi darurat," katanya.

Baca juga: Soal Keracunan Gas Caustic Soda, PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills 2 Disanksi Pemkab Karawang

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved