Breaking News:

Cerita Para Petugas Pemulasaran Tangani Jenazah Covid-19, Bisa Habis 3 Pak Tisu untuk Bersihkan Ini

Ketua tim pemulasara jenazah RSUD Ciereng Kabupaten Subang Heri Hartono menjelaskan jika pekerjaan menangani jenazah Covid-19 tidaklah mudah

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Siti Fatimah
TRIBUN JABAR/FERRI AMIRIL MUKMININ
ilustrasi LATIHAN pemulasaran jenazah Covid-19 yang berlangsung di halaman Mapolres Cianjur, Sabtu (18/4/2020). 

TIBUNJABAR.ID, SUBANG - Beratnya beban kerja pemulasara jenazah tak sebanding dengan insentif yang diterimanya, ditambah saat ini insentif para pemulasara jenazah di Subang belum juga dibayarkan.

Ketua tim pemulasara jenazah RSUD Ciereng Kabupaten Subang Heri Hartono menjelaskan jika pekerjaan memulasara jenazah tidaklah mudah.

"Jenazah biasa saja itu sulit apa lagi yang jenazah COVID-19 dan yang suspect COVID-19 ada prosedur khusus," ujar Heri ketika ditemui di kediamannya, Kelurahan Karanganyar Kabupaten Subang, Kamis (8/7/2021).

Heri mengatakan jika perbadaan jenazah positif COVID-19 dan suspect COVID-19 sangat jelas.

Baca juga: Petugas Pemulasara Jenazah Covid-19 di RSUD Ciereng Subang Mogok, Wagub Minta Pemkab Beri Perhatian

"Kalau yang positif dan suspect itu ada perbedaan ketika pembersihan, mereka kan kita bersihkan dulu setiap saluran pembuangan dari dubur, hidung, telinga. Kotorannya beda," kata Heri.

"Setiap jenazah COVID-19 kerap mengeluarkan cairan kuning yang sulit dibersihan, kita pakai tisu bisa habis 3 pak satu jenazah," kata dia.

Heri lantas mengatakan, kondisi demikian rawan menularkan virus kepada pemulasara yang bertugas.

"Rekan saya sempat terpapar, bahkan dulu pimpinan gak ada satupun yang nanyain kabar atau merhatiin, padahal dia tertular akibat kerja," kata Heri.

Ditambah kondisi berbahaya tersebut juga tak sebanding dengan imbalan yang didapat para THL.

Baca juga: VIRAL Peti Berisi Jenazah Covid-19 Terlempar dari Ambulan di Gresik Terekam Video, Ini Kronologinya

"Para THL itu cuma fapat Rp 100 ribu sehari, sedangkan kami yang PNS, saya sendiri sudah 16 bulan tak dapat insentif. Saya tak memikirkan diri saya cuma rekan saya yang THL mana bisa ditunggak, mereka makan darimana," ujarnya.

Sementara para pemulasara jenazah mogok kerja, pihak RSUD Ciereng memperkerjakan tenaga darurat dengan upah sebesar Rp 200 ribu per jenazah.

Menurut pantauan Tribun di kamar mayat RSUD Ciereng, para pemulasara dengan tenaga 4 orang nampak sedikit kesulitan, pasalnya hingga mendekati petang baru 4 jenazah yang berhasil dipulasara, sedangkan saat Heri dan tim nya bekerja, hingga menjelang ashar mereka kampu memulasara hingga 10 jenazah.

Namun tak ada halangan lain saat peristiwa para pemulasara jenazah mogok kerja, namun hanya ada sedikit hambatan kecepatan dalam bekerja.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved