18 Ribu Warga Cianjur Pakai Sampah Botol Plastik untuk Biaya Berobat Saat Pandemi Covid-19

Yusup menyebut di era pandemi Covid-19, warga miskin yang berobat gratis dengan menukarkan 10 botol plastik naik tajam di Klinik Harapan Sehat, Cianju

Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Kursi ecobrick dari sampah botol plastik di ruang tunggu Klinik Harapan Sehat Cianjur, Selasa (7/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril Mukminin

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR- Selama 11 tahun lebih, sejak 2009, Klinik Harapan Sehat di Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, melayani warga miskin yang berobat gratis dengan menukarkan 10 botol plastik.

Kampanye untuk ikut menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik dan membantu warga miskin yang berobat saat sakit, menjadi latar belakang Klinik Harapan Sehat menggulirkan program yang dimotori oleh dr Yusup Nugraha.

Yusup menyebut di era pandemi Covid-19, warga miskin yang berobat gratis dengan menukarkan 10 botol plastik melonjak tinggi.

Beberapa alasan di antaranya banyak pekerja yang sempat punya BPJS di-PHK sehingga kartu BPJS tak aktif serta banyak wiraswata dan pedagang yang gulung tikar sehingga tak mampu lagi mengeluarkan biaya untuk berobat.

Data tertinggi warga yang menggunakan botol plastik untuk berobat ke Klinik Harapan Sehat terjadi sejak 2020 saat pandemi Covid-19 melanda.

Ada 18.525 warga yang berobat dan botol plastik yang terkumpul mencapai 185.250.

Baca juga: Sudah Rp 95 Juta Denda Terkumpul dari Razia PPKM Darurat di Indramayu, Disetorkan ke Kas Negara

“Klinik Harapan Sehat dari 2009 mempunyai program pasti mudah bagi warga tidak mampu yang ingin berobat tanpa biaya sepeser pun. Pasien yang tak mampu berobat bisa menukarkan 10 botol plastik."

"Dengan begitu, mereka bisa dibantu dengan mendapat fasilitas gratis berobat sekaligus mereka bisa menjaga lingkungan hidup,” ujar Yusup ditemui di klinik Harapan Sehat, Rabu (7/7/2021).

Yusup mengatakan, selain membantu warga yang sakit untuk berobat, tujuan lainnya adalah menyelamatkan lingkungan dari sampah botol plastik.

Menurutnya, butuh 500 tahun agar sampah plastik bisa terurai di tanah. Jika dibiarkan maka akan mencemari lingkungan hidup ujungnya akan masuk kelautan.

Data global, Indonesia peringkat kedua di dunia setelah Cina sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan.

“Jika sudah berada di lautan, maka mikro plastik juga bisa berbahaya bagi kesehatan,” katanya.

Ia mengatakan, satu progam pasti mudah ini memiliki beberapa manfaat, Selain dibantu secara kesehatan, warga  juga bisa ikut menjaga lingkungan hidup dari sampah plastik. Tak hanya berobat, warga juga bisa mendapat perawatan sampai rontgen.

Baca juga: Keren, Pria di KBB Ini Ciptakan Sikat Gigi Berbahan Ramah Lingkungan untuk Lawan Sampah Plastik

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved