Sulit Cari Pendonor, Antrean Pemohon Plasma Konvalesen di PMI Kota Bandung Mencapai 458 pasien

Jumlah antrean pemohon Plasma Konvalesen di PMI Kota Bandung terus bertambah secara signifikan. Per Senin, jumlah antrean telah mencapai 458 pasien

Penulis: Cipta Permana | Editor: Seli Andina Miranti
TRIBUN JABAR/Yongky Yulius
Kantor PMI Kota Bandung di Jalan Aceh 

Laporan wartawan TribunJabar.id, Cipta Permana.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melonjaknya kasus positif Covid-19 di Kota Bandung, selain berdampak pada peningkatan keterisian tempat tidur pasien isolasi di rumah sakit dan langkanya tabung oksigen, juga berdampak pada meningkatnya jumlah antrean pemohon Plasma Konvalesen di PMI Kota Bandung.

Berdasarkan data harian PMI Kota Bandung yang dihimpun Tribun Jabar, jumlah antrean pemohon Plasma Konvalesen di Unit Transfusi Darah PMI Kota Bandung terus bertambah secara signifikan.

Per Senin (28/6/2021), jumlah antrean telah mencapai 458 pasien.

"Iya kang, antrean pemohon Plasma Konvalesen terus meningkat setiap harinya, seiring melonjaknya kasus positif Covid-19. Untuk data per hari ini saja (28/6/2021) telah mencapai 458 pasien, yang terdiri dari permohonan Plasma Konvalesen golongan darah A, 159 pasien, golongan darah B (138 pasien), golongan darah O (126 pasien), dan golongan darah AB (35 pasien)," ujar Kasubbag Infokom Markas PMI Kota Bandung, Priyo Handoko saat dihubungi melalui telepon, Senin (28/6/2021).

Menurutnya, bila dibandingkan dengan kondisi antrean pemohon sebelumnya, data per Minggu (27/6/2021) jumlah antrean mencapai 412 pasien.

Terjadi lonjakan antrean pemohon hingga 46 antrean pasien dalam kurun waktu satu hari saja.

Sementara itu, Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Bandung, dr. Ukeu Muktimanah menjelaskan, tingginya jumlah antrean, disebabkan oleh jumlah pendonor Plasma Konvalesen yang sangat minim, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan pasien positif Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat.

Baca juga: Sempat Ditutup Usai Dokter Terpapar Covid-19, Poliklinik Bedah Saraf di RSUD Sumedang Kembali Dibuka

Maka, data antrean Plasma Konvalesen di UTD PMI itu, merupakan akumulasi dari klasifikasi antrean pemohon baru, antrean pemohon sebelumnya yang belum terpenuhi kebutuhannya, dan antrean pemohon yang sudah terpenuhi sebagian dari yang jumlah permintaan yang di ajukan kepada PMI Kota Bandung.

"Sehingga di kita itu ada tiga klasifikasi antrean pemohon, dan data harian, yang kini mencapai 458 pasien itu merupakan acuan dari rencana kerja kami untuk berupaya dapat memenuhi kebutuhan dari Plasma Konvalesen tersebut. Jumlah antrean kebutuhan itu hanya untuk di Kota Bandung, kami tidak melayani untuk permintaan di luar kota," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (28/6/2021).

dr. Ukeu menuturkan, jumlah antrean itu baru berupa data pemohon atau pasien, dan bukan data kebutuhan labu Plasma Konvalesen, karena dalam setiap ajuan permintaan, rata-rata setiap pasien mengajukan kebutuhan antara tiga labu bahkan lebih.

Baca juga: Dinkes Pastikan Ketersediaan Tabung Oksigen untuk Pasien Covid-19 di Kabupaten Sukabumi Masih Aman

"Misalkan, ada permintaan dari satu pasien untuk tiga labu Plasma Konvalesen, dengan kondisi sulitnya memperoleh pendonor plasma, maka baru kita mampu penuhi satu atau dua labu, terlebih pemakaian terapi Plasma Konvalesen dilakukan secara bertahap, tidak tiga sekaligus dalam satu hari. Maka bila ada permintaan tiga labu, dan kami berikan semuanya, berarti kami hanya membantu satu pasien, sedangkan pasien lain juga membutuhkan hal yang sama, sehingga kami bagi sesuai urgensi kebutuhan," ucapnya.

Ia menegaskan, meski pemenuhan kebutuhan plasma konvalesen dilakukan pihaknya secara bertahap, namun ia memastikan bahwa pemohon akan tetap mendapatkan sisa permintaanya di kemudian hari, karena upaya pencarian pendonor untuk memenuhi kebutuhan tersebut terus dilakukan pihaknya setiap hari.

Dengan demikian, jumlah antrean akan terus bertambah setiap hari, karena baik pemohon baru hingga pemohon yang baru terpenuhi sebagian semuanya harus antre untuk dapat terpenuhi kebutuhannya.

Ia menambahkan, selama ini pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan akan plasma konvalesen tersebut, di antaranya menambah jumlah mesin apheresis atau mesin khusus pengolah darah yang mampu memisahkan antara plasma konvalesen dengan darah, hingga menambah jumlah SDM.

Baca juga: SIMAK Kriteria Isolasi Bagi Pasien Covid-19 Gejala Ringan, Sedang, Berat, hingga Kritis di Indramayu

Meski demikian, kendala yang dihadapi di lapangan adalah sulitnya mencari pendonor plasma konvalesen yang sesuai dengan standar kriteria yang telah ditetapkan untuk dapat memperoleh kualitas plasma konvalesen yang terbaik untuk diberikan kepada pasien yang dalam perawatan.

Adapun syarat untuk seseorang pendonor plasma konvalesen, diantaranya selain merupakan penyintas Covid-19, tapi juga ketentuan usia pendonor antara 18-60 tahun, berat badan minimal 55 Kg, tidak memiliki riwayat penyakit comorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus, dan diprioritaskan laki-laki.

Selain itu, pendonor harus memiliki rentang waktu dua hingga dua belas minggu setelah dinyatakan negatif Covid-19 atau sembuh, karena pada masa tersebut, diharapkan titer antibodi pendonor tersebut telah tinggi, sehingga dapat menghasilkan plasma konvalesen yang berkualitas.

"Kami berharap dengan bantuan peran serta media, dapat mengedukasi masyarakat, terutama para penyintas Covid-19, agar dapat memahami situasi tingginya kebutuhan plasma konvalesen. Sehingga para donor penyintas tidak perlu ragu atau takut untuk dapat mendonorkan darahnya, untuk membantu pasien lain yang membutuhkan, dengan datang langsung ke PMI, tentunya telah memenuhi syarat-syarat kriteria sebagai pendonor plasma konvalesen tadi," katanya.

Baca juga: Penularan Covid-19 Menggila, Kiper Persib Bandung Ini Ajak Bobotoh Perketat Protokol Kesehatan

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved