Saat Terjadi Tsunami di Pangandaran pada 2006, Ini yang Membuat Banyak Korban Jatuh
Tidak adanya mitigasi bencana menjadi penyebab banyaknya korban jiwa saat terjadi tsunami di Pangandaran pada 2006.
Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Tidak adanya mitigasi bencana menjadi penyebab banyaknya korban jiwa saat terjadi tsunami di Pangandaran pada 2006.
"Dulu banyak korban karena mitigasi bencananya belum terbentuk. Jadi, banyak masyarakat yang belum memahami tanda-tanda tsunami itu seperti apa," kata Ketua Tagana Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Nana Suryana, Sabtu (26/6/2021)
Dia menceritakan, banyak masyarakat kala itu tak menyadari bakal ada tsunami meski mereka tahu air laut surut setelah terjadi gempa bumi.
Sebelum terjadi tsunami, kata dia, masih banyak yang tidak melakukan evakuasi secara mandiri.
"Nah, ini pentingnya simulasi siaga gempa dan tsunami dilakukan setiap waktu, sesering mungkin," katanya.
Karena, memang, simulasi tersebut harus melekat di masyarakat.
Ketika ada gempa dan getarannya dirasakan cukup besar, maka harus segera mengevakuasi mandiri.
"Mereka pun harus tahu dan terpetakan, ke mana akan melakukan evakuasi. Nah, satu alasannya dulu terjadi banyak korban, itu karena ketidaktahuan masyarakat," ucapnya.
Nana mengungkapkan, dulu dia menyaksikan sendiri saat terjadi tsunami Sebab rumah di sekitar Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran.
"Jadi pas tsunami itu, termasuk menjadi satu korban juga. Waktu itu, masih banyak yang tidak menyadari dan masih di pinggir pantai," ucapnya.
Dia menceritakan, jarak antara terjadinya gempa dengan tsunami sekitar 15 sampai 25 menit.
Waktu itu, kalau masyarakat tahu, bisa dipakai untuk mengevakuasi diri ke tempat lebih tinggi sehingga aman.
"Kalau masyarakat semuanya sudah paham, mungkin bisa saja tidak banyak korban," ucapnya.
Jika terjadi tsunami lagi di Pangandaran, menurut Nana, masyarakat masih punya waktu menyelamatkan diri.
"Kalau melihat episentrum titik potensi gempa, untuk nyampai ke daratan itu cukup jauh," katanya.
Jika dihitung menit, masih ada waktu antara 15 menit hingga setengah jam.
"Waktu singkat itu, memang harus benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman," ucap Nana. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/plang-evakuasi-tsunami-pangandaran.jpg)