Breaking News:

Waspada Penipuan Investasi Berkedok Badan Usaha Koperasi, Tibu Ribuan Orang

Penipuan investasi berkedok badan usaha koperasi, menelan korban ratusan ribu orang dan total kerugian mencapai triliunan rupiah

Penulis: Shania Septiana | Editor: Siti Fatimah
istimewa
Pengamat Ekonomi dari Unpad, Acuviarta Kartabi 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Koperasi disebut sebagai sokoguru atau tiang penyangga utama perekonomian Indonesia. Ironisnya, peran koperasi dalam perekonomian semakin tidak jelas arah dan tujuannya.

Bahkan, yang lebih menyedihkan justru badan usaha koperasi, khususnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab sebagai sarana untuk menipu masyarakat.

Alhasil, penipuan investasi berkedok badan usaha koperasi, menelan korban ratusan ribu orang dan total kerugian mencapai triliunan rupiah.

Baca juga: Viral Pegawai Koperasi Tagih Utang Pakai Speaker, Langsung Dibayar Lunas, Dulu Nasabah Pernah Kabur

Acuviarta Kartabi, Pengamat Ekonomi  menjelaskan bahwa masyarakat dan calon anggota koperasi harus paham dan terliterasi dengan baik mengenai pemahaman tentang koperasi.

"Dalam arti kata yang menggunakan bisnis koperasi itu. Pemahaman tentang keuntungan, pemahaman tentang resiko itu masih sangat kurang. Kadang-kadang kita hanya melek untung, tapi tidak melek risiko," ucapnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (17/6/2021).

Menurutnya, pernyataan orang yang "katanya"  atau hanya dari mulut ke mulut bisa menyesatkan dan merugikan.

"Saya kira, risikonya tidak diperhatikan. Harus diperhatikan, bisnisnya apa, logis atau tidak, itu kan harus diperhatikan," ujarnya.

Pengawasan dan kebijakan koperasi ini dipegang oleh  Dinas Koperasi, baik di kabuten atau kota.

Jika berurusan dengan pengelolaan keuangan, harus ada keterlibatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga: Hindari Bank Emok, Pesantren Al-Muawanah Perluas Koperasi Pesantren untuk Warga Sekitar

"Masyarakat harus memahami proses bisnis dan belajar dari pengalaman. Bagaimana sebuah koperasi dalam jangka panjang betul-betul merealisasikan perkembangan dinamika bisnis yang terjadi. Kalau tiba-tiba untungnya besar katakanlah sebulan bisa dapat 20% atau 30% kan itu tidak logis. Darimana bisnis macam itu," ujarnya.

Acu, sapaan akrab Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan itu berpesan, agar terhindar dari hal buruk yang tidak diinginkan selama menjadi anggota koperasi, masyarakat harus paham risiko, kenali koperasi, ada pengawasan, dan melihat dari aspek yang logis.

"Hal-hal itu harus jadi batasan, selalu ada potensi karena perusahaan kredible sekalipun bisa berpotensi terjadi penipuan," tutupnya.

Baik dari eksistensi koperasi dan kepercayaan, koperasi harus diawasi pemerintah disamping masyarakat. Dan jangan sampai muncul stigma di masyarakat bahwa koperasi itu merugikan.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved