Update Desa Miliarder di Kuningan, Banyak Tanah yang Belum Dibayar Pemerintah

Kondisi warga "desa miliarder" alias Desa Kawungsari di Kabupaten Kuningan ternyata menyisakan banyak cerita.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Hermawan Aksan
Istimewa
Salah satu pemandangan di "desa miliarder" di Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN - Kondisi warga "desa miliarder" alias Desa Kawungsari di Kabupaten Kuningan ternyata menyisakan banyak cerita.

Salah satunya, bidang tanah warga hingga sekarang belum tergantikan oleh pemerintah.

"Ada 14 bidang tanah di desa kami yang belum terbayar oleh pemerintah, termasuk bidang tanah milik saya," ujar Kusto, Kepala Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, saat ditemui di rumahnya, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Tangisan Warga Pecah, Desa Miliarder di Kuningan Kini Rata dengan Tanah, Rumah-rumah Dirobohkan

Bidang tanah yang termasuk lahan permakaman umum, kata Kusto, juga menjadi pembahasan pergantian pembayaran pemerintah.

"Ada seratusan meter persegi lahan permakaman di desa kami, baru diukur untuk mendapat pergantian biaya dari pemerintah," ujarnya.

Hitungan yang ditaksir dalam pergantian pembayaran untuk satu makam, kata Kusto, telah sepakat dihargakan sekitar Rp 8 jutaan.

"Penetapan harga itu untuk biaya gali ulang atau pemindahan jenazah dari kuburan tersebut," katanya.

Kondisi Terkini Desa Miliarder di Kuningan, Motor Baru Terus Berdatangan, Sales Mobil Menyerbu
Kondisi Terkini Desa Miliarder di Kuningan, Motor Baru Terus Berdatangan, Sales Mobil Menyerbu (tribun jabar)

Hal lain yang membuat tidak nyaman warga dan pemerintah desa, kata Kusto, dengan lambatnya pengerjaan pembangunan perumahan sebagai calon tempat tinggal warga terdampak pembangunan Waduk Kuningan.

"Iya, pembangunan perumahan di Desa Sukarapih itu belum selesai semua dikerjakan. Terutama mengenai fasilitas umum dan sosial sebagai sarana lingkungan warga di sana," ujarnya.

Disinggung soal warga yang merobohkan bangunan rumahnya, Kusto mengatakan bahwa warga itu ada yang punya rumah baru dengan hasil pembelian sendiri dan ada juga yang mengontrak sebagai tempat tinggal sementara.

"Untuk tempat tinggal sementara sembari menunggu beresnya pembangunan perumahan relokasi, memang ada warga yang ngontrak dan ada juga warga yang beli rumah dari keuntungan biaya kena gusuran," kata Kusto lagi.

Orang nomor satu di "desa miliarder" ini mengaku sempat aneh dengan kebijakan pemerintah dalam mendukung program strategis nasional (PSN), pembuatan Waduk Kuningan.

Hal itu muncul akibat keterlambatan penuntasan masalah penyelenggara pemerintahan dengan warga.

"Terkadang saya juga gak habis pikir. Dalam kebijakan PSN yang diberikan jeda waktu hingga tanggal 21 Juni bahwa lahan di sini sudah rata. Namun melihat kenyataannya bisa dilihat langsung, ada yang belum kena biaya ganti untung, usaha perpindahan warga untuk tempat tinggal disana bagaimana?" ujarnya.

Ditanya berapa banyak jumlah jiwa dan kepala keluarga, Kusto menjawab bahwa Desa Kawungsari memiliki 362 kepala keluarga, sebanyak 1.156 jiwa dan memiliki hak pilih 800 jiwa.

"Mereka terbagi menjadi dua dusun dan 8 rukun tetangga (RT)," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved