Breaking News:

Perilaku Bijak untuk Mencegah dan Mengendalikan Kasus Baru Talasemia

Talasemia adalah penyakit genetik/keturunan yang dapat dicegah dan mengenai sel darah merah atau eritrosit

Editor: bisnistribunjabar
Istimewa
Talasemia adalah penyakit genetik/keturunan yang dapat dicegah dan mengenai sel darah merah atau eritrosit 

TRIBUNJABAR.ID,- Mencegah lebih baik daripada mengobati, walaupun pepatah itu sudah sering kita dengar namun lemah dalam pelaksanaannya. Pengendalian penyakit talasemia sedemikian sulit karena dua hal yaitu KETIDAKTAHUAN dan KETIDAKPEDULIAN.

Hal tersebut tampaknya yang menjadi biang kerok carut marut masalah kesehatan di Indonesia yang mana penanganan suatu penyakit perlu diupayakan dari hulu ke hilir mulai dari pengaruh kebijakan pemerintah hingga peran aktif masyarakat. Suatu kebijakan kesehatan akan berhasil bila disertai dengan kesadaran dan perubahan perilaku masayarakatnya berdasarkan pengetahuan yang baik.

Mengenal Lebih Dekat Talasemia
Talasemia adalah penyakit genetik/keturunan yang dapat dicegah dan mengenai sel darah merah atau eritrosit. Pada talasemia umur eritrosit lebih pendek dibanding normal (120 hari), akibatnya sel menjadi cepat rusak dan dihancurkan menimbulkan gejala anemia yaitu: pucat, lemah, lesu, tidak bergairah, kurang konsentrasi serta pembesaran organ yang berfungsi sebagai penghancur sel darah merah yang bekerja ekstra (hati dan limpa) mengakibatkan perut tampak membuncit.

Gejala yang muncul bervariasi mulai ringan hingga berat sampai memerlukan transfusi sepanjang hayat (dependen transfusi), ditentukan oleh seberapa banyak kerusakan genetiknya (minor, intermedia, dan mayor). Untuk yang bergejala berat (mayor) umumnya muncul pada usia dibawah satu tahun, bayi laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang sama. Talasemia minor dapat tanpa gejala atau hanya mengalami anemia ringan mirip gejala anemia akibat kurang besi, sedangkan talasemia intermedia bergejala namun umumnya hanya memerlukan transfusi darah sewaktu-waktu.

Dahulu talasemia menjadi stigma di masyarakat, karena diagnosis serta pengobatan terlambat menyebabkan perubahan fisik menetap yang membuat pasien dan keluarga menjadi minder dan dikucilkan dari pergaulan sekitar. Namun dengan pengobatan optimal saat ini, penyintas talasemia dapat hidup senormal mungkin dengan rutin menjalankan pengobatan.

Penanganan utama talasemia meliputi transfusi darah merah rutin, umumnya dilakukan 3–4 minggu untuk mempertahankan kadar hemoglobin (sel darah merah) yang cukup mendukung tumbuh kembang anak, dan mencegah komplikasi akibat anemia. Pada suatu periode tertentu setelah transfusi berulang, akan ditemukan kondisi berlebihnya kadar besi tubuh. Besi dapat terikat pada semua organ dan mengakibatkan komplikasi gangguan organ, dan dimulailah pengobatan yang bertujuan membuang besi berlebih di dalam tubuh.

Gambar Pola Penurunan Talasemia Mayor
Gambar Pola Penurunan Talasemia Mayor (sumber: Skema Penurunan Thalassemia - Direktorat P2PTM (kemenkes.go.id))

Talasemia Penyakit yang Kompleks
Dengan bertambahnya usia, pada saat remaja dan dewasa, ancaman komplikasi akibat anemia jangka panjang dan kelebihan besi di berbagai organ terutama pada jantung dan hati semakin meningkat, dan bahkan semua organ di tubuh bisa dapat terdampak mulai dari gangguan hormon, tulang, ginjal serta organ lainnya. Penanganan talasemia termasuk 5 besar pengguna biaya jaminan pemeliharaan kesehatan, sehingga apabila jumlah kasus baru tidak dikendalikan maka jumlah anggaran kesehatan akan semakin besar dikeluarkan, belum lagi penyintas perlu meluangkan waktu disela-sela aktivitasnya untuk transfusi dan terkadang perlu melakukan rawat inap.

Perihal transfusi darah ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan. Seorang penyandang dan keluarganya, perlu meluangkan waktu mulai dari matahari terbit untuk datang ke pusat pelayanan kesehatan, membereskan administrasi antrian, asuransi, belum lagi bila cadangan darah yang sesuai sedang kekurangan. Biaya transportasi, biaya hidup pasien dan keluarga selama ini mungkin luput dari perhitungan ekonomi kesehatan menjadi beban cukup berat untuk keluarga apalagi yang berasal dari kurang mampu. Bahkan bila domisili penyandang memiliki jarak tempuh yang jauh, maka perlu menginap di rumah singgah karena tidak memungkinkan pulang di hari yang sama.

Walaupun dapat hidup senormal mungkin, namun mau tidak mau kualitas hidup dapat terganggu. Faktor-faktor ini yang menyebabkan tingkat ketidakteraturan dan putus pengobatan cukup tinggi, sehingga mengakibatkan hasil pengobatan yang buruk. Belum lagi rasa jenuh untuk melanjutkan pengobatan, mengonsumsi obat sepanjang hayat bukan hal yang mudah, rasa bosan, efek samping obat yang tidak nyaman merupakan tantangan lainnya untuk mendapatkan hasil pengobatan yang baik.

Mulailah Berperilaku Bijak
Walapun talasemia merupakan penyakit kasatropik berbiaya tinggi dan berdampak medis dan non medis berat, namun kelahiran talasemia sesungguhnya dapat dicegah. Bagaimana cara mencegahnya? Yaitu mencegah pernikahan antara pembawa sifat talasemia (talasemia minor). Lihatlah diagram dibawah ini mengenai skema penurunan talasemia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved