Breaking News:

Liputan Khusus Tribun Jabar

Kepala Disdagin Kota Bandung Tak Bisa Larang Aksi Mogok Perajin Tahu: Stok Kedelai Sebenarnya Cukup

Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliyah, mengatakan perajin tahu dan tempe saat ini memang hanya mengandalkan kedelai dari impor untuk produksinya

Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Elly Wasilah di Balai Kota, Kamis (28/5/2020). 

TRIBUNJABAR.ID- Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung mengaku tak bisa melarang aksi mogok produksi yang rencananya akan dilakukan para pengrajin tahu dan tempe selama tiga hari, mulai Jumat (28/5/2021).

Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliyah, mengatakan perajin tahu dan tempe saat ini memang hanya mengandalkan kedelai dari impor untuk produksinya, sementara kebijakan impor kedelai ini adanya di pemerintah pusat, bukan di daerah.

Elly mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor ini.

Satu di antaranya adalah terus merangkak naiknya harga kedelai global. April 2021, kedelai masih dijual dengan harga Rp.9.200 per kilogram. Pada bulan Mei sudah kembali naik menjadi Rp. 10.500 per kilogram.

Elly mengatakan, sebagian besar kedelai di Indonesia diimpor dari Amerika Serikat. 

Baca juga: Harga Kedelai di Bandung Terus Melambung, Imbas Harga di Amerika, Kopti Tak Melarang Aksi Mogok

"Saat ini, kedelai di Amerika Serikat belum memasuki masa panen," ujar Elly Wasliyah melalui telepon, Rabu (26/5/2021).

Elly mengatakan pemicu kenaikan harga kedelai ini adalah adanya permintaan dari Cina sebesar 7,5 juta ton pada April 2021. Permintaan ini menyebabkan harga kedelai dunia ikut naik.

Namun, kata Elly Wasliyah, Kementerian Perdagangan sudah memastikan bahwa stok kedelai untuk  kebutuhan industri tahu dan tempe masih mencukupi. 

"Salah satu upaya untuk menekan harga kedelai, diimbau kepada distributor untuk dapat menyalurkan langsung kepada industri perajin tahu dan tempe. Ini akan memotong mata rantai distribusi," ujar Elly Wasliyah seraya menyebutkan bahwa kebutuhan kedelai di Kota Badung saja sekitar 8.000 ton per bulan. (tiah sm)

Penulis: Tiah SM
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved