Penghuni Terakhir Kampung Mati Kuningan, Abah Lurah Kini Pilih Pindah, Begini Alasannya
Abah Lurah atau Bah Lurah penghuni terakhir kampung mati di Kuningan kini memilih pindah dan meninggalkan kampung tersebut
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Masih ingat dengan lokasi pemukiman warga yang kini tidak menjadi tempat tinggal pada umumnya.
Lokasi itu dikenal Kampung mati yang merupakan Dusun Cimeong, di Desa Cilayung, Kecamatan Ciwaru, Kuningan Jawa Barat termasuk daerah Kuningan yang sangat popular.
Bicara kampung mati, tentu memiliki jalinan kuat dengan sosok Abah Lurah atau Bah Lurah yang memiliki nama lengkap Edi Kurdi (69), yang sebelumnya tinggal sendirian di lokasi kampung mati daerah setempat, Kamis (20/5/2021).
Baca juga: Mirip Sosok Mbah Marijan, Abah Lurah Pilih Bertahan Hidup Sendiri di Kampung Mati, Ini Alasannya
Sapaan akrab Bah Lurah berdasarkan keterangan diterima bahwa penamaan itu merupakan jabatan sosok Edi Kurdin selama 17 tahun sebelum terjadi kampung mati.
“Ya nama Bah Lurah itu saya, Edi Kurdi yang menjadi Lurah di Dusun Cimeong selama 17 tahun sebelum muncul sebutan kampung mati,” kata Bah Lurah saat ditemui rumah anaknya di Dusun Mekarsari yang cukup jauh jarak dari lokasi kampung mati alias Dusun Cimeong.
Saat berbincangan dengan Bah Lurah yang terlihat kondisi kesehatannya kurang baik, ini tidak banyak menyita waktu pribadi Bah Lurah saat ditemui di rumah anaknya.
Alasan lain untuk tetap bertahan selama empat tahun di kampung mati, tidak lain untuk menjaga lingkungan alam dan sebagai upaya untuk memenuhui hajat hidup dari hasil olah tanam.
“Ya rata- rata yang pindah ke perumahan ini sudah tidak memiliki lahan garapan sebagaimana saat tinggal di Dusun Cimeong. Dimana warga beraktivitas dalam mengolah lahan tanam untuk memenuhui hajat hidup,” ungkapnya.
Ungkapan demikian, kata Bah Lurah mengaku telah mengukur pada pribadi yang sudah tak memiliki banyak tenaga seperti warga lainnya.
“Iya kalau untuk anak muda atau warga lain belum tua, itu bisa bekerja sebagai tani di lahan orang dengan harapan di bayar.
Namun untuk usia saya begini bagaimana, disisi lain untuk jasa pulang pergi saat berladang di sekitar Dusun Cimeong dan pulang kesini, itu ongkos sudah Rp 30 ribu dalam satu hari dan bagaimana jika di hitungan perbulannnya,” ujarnya.
Baca juga: Abah Lurah Pilih Bertahan Hidup Sendiri Di Kampung Mati, Mirip Sosok Mbah Marijan, Ini Alasannya
Demikian dengan kondisi rumah pemberian pemerintah, kata Bah Lurah mengaku bahwa tempat tinggalnya berada di jajaran jalur A no 7 itu bangunan terancam ambles.
“Rumah yang saya terima itu bangunan belakang retak – retak dan tanah turunnya dari permukaan membuat hawatir ambruk akibat longsor,” ujarnya.
Sebagai pembelajaran dalam keyakinan menjalani kehidupan, Bah Lurah berpesan kepada semua lapisan masyarakat untuk tetap berbuat baik.
Sebab hal ini terbukti dalam kehidupan bah Lurah pada tahun 1977 lalu.
“Ceritanya waktu 1977 ada warga di Cimeong susah bangun dan tak mungkin saya angkat. Tapi dengan cara mempah orang jatuh tadi bisa berpindah tempat hingga selamat.
Nah, hal ini terjadi pada saya saat jatuh yang di bantu oleh anak lahiran 1985 yang diketahui anak orang tua yang terjatuh lalu saya bantu, intinya menanam kebikan itu pasti akan dirasakan kembali,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kampung-mati-cimeong.jpg)