Breaking News:

Kata Pengamat, Meski Pakai Pola PAN, Tak Ada Jaminan Berdampak Sama untuk Partai Ummat

Susunan kepengurusan DPW Partai Ummat Jawa Barat telah terbentuk dan tinggal menunggu surat keputusan pengesahan dari DPP Partai Ummat.

Penulis: Cipta Permana
Editor: Giri
berita.upi.edu
Pengamat komunikasi publik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Karim Suryadi. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Susunan kepengurusan DPW Partai Ummat Jawa Barat telah terbentuk dan tinggal menunggu surat keputusan pengesahan dari DPP Partai Ummat.

Terdapat 23 nama dari berbagai latar belakang profesi berada di sana. Akademisi, cendikiawan, hingga pengurus ormas Islam menjabat posisi ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dari partai politik bikinan Amien Rais tersebut.

Pengamat komunikasi publik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Karim Suryadi, menilai kehadiran para akademisi di tubuh Partai Ummat akan mengembalikan image sebagai partai kader, seperti yang dilakukan Amien Rais pada awal kehadiran Partai Amanat Nasional (PAN).

Terlebih, kolaborasi akademisi bersama tokoh ormas Islam, memberikan warna perbedaan tersendiri di bandingkan partai politik lain.

Sehingga, memiliki peluang kuat untuk dapat meraih dukungan besar dari basis massa masing-masing. 

"Kekuatan Partai Ummat sebagai partai baru itu terletak pada kebaruannya. Karena itu kemunculannya tidak akan secara otomatis akan dibaca sebagai entitas baru, jika keberadaan orang yang telah malang-melintang dalam dunia politik kepartaian di Indonesia tidak memunculkan kebaruan yang menjadi pembeda dari partai politik lain," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (9/5/2021). 

Karim menuturkan, potensi dukungan akan hadir dari masyarakat, apabila Partai Ummat mampu memberikan perbedaan.

Baca juga: Struktur Kepengurusan DPW Partai Ummat Jawa Barat Terbentuk, Tinggal Tunggu SK Pengesahan DPP

Perbedaan itu akan tampak dari kebijakan yang dibuat, pendekatan partai terhadap massa, dan posisi yang diambil terhadap pemerintah.

Meski menggunakan pola yang sama dengan PAN, namun, menurutnya, tidak ada jaminan sebuah pola yang digunakan yang berdampak sama.

Sebab banyak faktor yang dapat memengaruhinya, seperti rekam jejak dan citra dari tokoh lama, serta konstelasi politik yang berpengaruh saat ini.

Baca juga: Partai Ummat Jabar Sudah Miliki Ketua DPW, Begini Mekanisme Pemilihannya, Tidak Lewat Kontestasi

"Tidak ada pola yang berdampak sama. Daur ulang pola dan pendekatan tidak lebih menguntungkan ketimbang menciptakan pola baru yang compatible atau cocok dengan keadaan. Sehingga, kehadiran pembeda dan menawarkan sesuatu yang baru memiliki daya tarik yang lebih unggul dibandingkan menerapkan pola lama dan atau sama dengan parpol lain. Dengan demikian new things for new hope ((hal baru untuk harapan baru) harus  terbaca dalam setiap gerakan pembauran yang diusung," katanya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved