Breaking News:

Di Indramayu, Hanya Desa Berstatus Zona Hijau dan Kuning yang Boleh Laksanakan Salat Id Berjamaah

Desa yang mengalami tingkat penyebaran Covid-19 tinggi, yakni zona merah dan zona oranye agar pelakasanaan Salat Idulfitri dilakukan di rumah saja

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Seli Andina Miranti
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
ILUSTRASI - pelaksanaan salat Idulfitri 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Di Kabupaten Indramayu, hanya desa dengan status zona hijau dan zona kuning saja yang dapat menyelenggarakan Salat Idulfitri berjamaah di masjid dan lapangan.

Ketentuan tersebut diatur dalam Surat Edaran Bupati Indramayu Nomor : 091/ ST Covid19-IM/V/2021.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara mengatakan, sedangkan desa yang mengalami tingkat penyebaran Covid-19 tinggi, yakni zona merah dan zona oranye agar pelakasanaan Salat Idulfitri dilakukan di rumah saja.

"Ini sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-omas Islam lainnya," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Minggu (9/5/2021).

Deden Bonni Koswara menyampaikan, bagi desa yang diperbolehkan melaksanakan Salat Idulfitri, tetap wajib memperhatikan standar protokol kesehatan secara ketat.

Di antaranya, jumlah jamaah yang hadir melaksanakan Salat Idulfitri tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas masjid dan lapangan.

Hal ini guna menjaga agar jarak antar shaf jamaah agar bisa direnggangkan dan tidak berdempetan.

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) pun harus bisa memastikan kesehatan para jamaah yang hadir dengan melakukan pemeriksaan cek suhu tubuh, dan pemeriksaan lainnya.

Baca juga: Ini Doa Hari Raya Idul Fitri 2021 yang Bisa Disertakan dalam Ucapan Selamat Lebaran 2021

Seluruh jamaah diwajibkan mengenakan masker selama pelaksanaan Salat Idulfitri berlangsung.

Bagi para lansia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau baru pulang dari perjalanan disarankan tidak menghadiri shalat ldulfitri.

"Khutbah ldulfitri dilakukan secara singkat dengan memenuhi rukun khutbah, paling lama 20 menit," ucapnya.

Masih dijelaskan Deden Bonni Koswara, mimbar yang digunakan penyelenggaraan Salat Idulfitri di masjid dan lapangan pun diminta agar dilengkapi dengan pembatas transparan antara khotib dan jamaah.

"Seusai pelaksanaan shalat Idul Fitri jemaah kembali ke rumah dengan tertb dan menghindani berjabat-tangan dengan bersentuhan secara fisik," ujar dia

Baca juga: Menjelang Idul Fitri 1442 H, Harga Sembako di Pangandaran Relatif Normal, Hanya Ini yang Naik

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved