Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Senyum Kemenangan

Dorka! Nama itu bertahun-tahun terus menjalar seperti darah kotor di sekujur tubuhnya. Menjadi bayang-bayang di setiap kelebat lamunannya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

Oleh Rudi Riadi

            Langit sore mulai kelabu saat beberapa meter lagi Karjang menerobos gapura desa. Ia berhenti tanpa mematikan mesin sepeda motornya, hanya untuk memastikan bahwa desa ini benar-benar yang ia tuju. Mata keruh itu memandangi tulisan selamat datang pada gapura itu yang akan segera ia lewati. Jelas bukan tatapan rasa rindu.

Untuk sementara rencana ini sesuai keinginan, bahwa ia harus masuk ke desa itu sebelum azan Magrib berkumandang.

            Sejenak ia teringat kalimat istrinya yang memberikan bekal untuk berbuka.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Copet! Copet!

            “Tidakkah kauurungkan niatmu, Yah?”

            “Tidak, Bun. Ayah harus menuntaskan janji.”

            Tapi istrinya adalah wanita terbaik yang ia miliki. Dalam isak tangis, kekhawatiran tetap saja memberinya perbekalan berbuka.

“Aku datang, Dorka!” Getar suaranya berasal dari kobaran yang menyulut di hatinya. Ia segera memasukkan gigi satu sepeda motornya.

            Dorka! Nama itu bertahun-tahun terus menjalar seperti darah kotor di sekujur tubuhnya. Menjadi bayang-bayang di setiap kelebat lamunannya. Dorka adalah penguasa pasar 15 tahun lalu. Tidak ada seorang pun yang berani mencela kotoran di matanya. Sedikit saja hati Dorka tergores, maka golok rajapati akan melayang.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Hukum Chekov

            Dulu, adik Karjang punya kios rokok di jalan menuju pasar. Dorka selalu berkeliling meminta “upeti”, termasuk ke kios adik Karjang. Entahlah, saat itu sang adik tidak mau memberi bahkan hanya sebatang rokok pun kepada Dorka. Maka pada suatu subuh yang dingin, Karjang mendapat kabar dari orang-orang pasar bahwa saudara kandung tercinta sudah tak bernyawa di kiosnya.

            Negara sudah menghukum Dorka, tapi tidak bisa memadamkan api dendam di hati Karjang.

            Tidak heran ketika mendengar kabar tentang bebasnya Dorka, telinga Karjang langsung memanas. Predator itu menjadi obrolan berulang-ulang dari mulut orang-orang pasar, menjadi suplemen sarapan pagi di warung nasi, menjadi pengiring asap rokok di warung kopi.

Rajapati harus dibayar dengan rajapati. Itulah janji Karjang. Hidupnya akan selalu gelisah bila belum melihat darah yang muncrat di leher Dorka. Dan hari ini adalah saat yang tepat, setelah ia mencari tahu di mana keberadaan Dorka saat ini.

Ilustrasi Cerpen
Ilustrasi Cerpen (Tribun Jabar)

            Karjang meruncingkan teliganya, mencari suara murottal ayat-ayat Alquran dan matanya segera melihat sebuah masjid bermenara tinggi. Sebentar lagi azan Magrib.

            Karjang memarkirkan sepeda motornya di samping masjid. Beberapa orang jemaah masih di luar dan hendak mengambil wudu. Ibu-ibu berdatangan menenteng baki dan rantang takjil.

            Selepas mengambil wudu Karjang menginjakkan kakinya persis pada tulisan batas suci masjid. Ia melangkah dengan lunak serta membenarkan posisi pisau belati yang terselip di pinggang. Ketika berwudu belati itu sedikit bergeser.

            “Assalamualaikum, Karjang. Kumaha damang?” suara itu muncul dari seseorang yang sudah berada di depan pintu masjid. Karjang membalas ucapan itu ambil menyempurnakan celana panjangnya yang ia lipat. Saat mendongak ia tahu siapa yang menyapa. Ia tidak pangling dengan sosok berbadan tegap yang berada di depannya. Ia menyesal telah membalas sapaan. Karena orang itu adalah Dorka. Tangan Dorka menawarkan untuk bersalaman. Karjang tidak bersedia menerima uluran itu. Hatinya yang baru saja dingin kembali mendidih.

            “Saya tahu suatu saat kamu akan datang. Silakan masuk, Karjang. Kita salat dan ngabatalan dulu. Maaf, saya harus segera azan.” Lelaki kekar itu berujar sambil tersenyum serta meninggalkan Karjang. Nadanya datar. Dorka sudah tampak tua, seperti ia juga, tapi tidak mampu menggerogoti ketegapan badannya. Otot-otot Dorka masih menonjolkan ketangguhan. Cukup menciutkan hati Karjang.

            Dorka melaungkan azan Magrib, Semua berseru hamdalah sambil memakan takjil serta menjawab setiap kalimat dalam azan. Suara azan yang sangat merdu.

            Dalam kecamuk hatinya Karjang berusaha mengendalikan diri dan tetap berusaha memakan beberapa buah kurma. Sesudah azan, Dorka ikut terlibat menikmati beberapa kudapan takjil. Karjang berusaha meredam amarahnya. Dadanya bertalu-talu seperti ratusan marbut sedang berparade beduk di hatinya.

            Kalau hati sudah dibalut dendam, semua tidak berpengaruh. Semuanya menjadi kebal. Suara azan yang merdu, janggut yang panjang, atau apalah itu sebagai simbol kadar kesalehan seseorang. Tidak! Karjang tidak peduli. Ia hanya menginginkan orang itu mati.

            Seorang sepuh beserban putih menyuruh Dorka untuk melantunkan iqomah. Seluruh jemaah berdiri.

            “Rapatkan safnya!” perintah Sang Imam kepada jemaah. Karjang memilih berada di belakang Dorka. Posisi terbaik untuk mendekatkan janji. Ia sadar bahwa badannya sudah tambun dan tenaganya bertambah lemah karena rematik. Muka Karjang sudah moon face efek bertahun-tahun mengonsumsi obat-obat pereda sakit. Lalu apa yang ia harapkan di kala tubuh dan nafsu tak dapat berkoordinasi? Lalu nekat melawan orang yang tampak masih kuat memasang kuda-kuda kakinya?

            Hanya soal waktu. Mungkin juga ini adalah skenario terbaik. Andai harus berhadapan langsung melawan Dorka yang masih kekar, ia pasti sudah langsung tersungkur. Tapi apa jadinya bila masjid ini tiba-tiba harus dipenuhi darah!

Kembali ia menyempurnakan belati agar posisinya bisa dengan mudah ia ayunkan.

“Allahuakbar!” Sang Imam mengangkat kedua tangannya. Karjang memegang pisau belati. Tidak ada yang tahu bahwa ia sudah mulai membuka ritsleting jaketnya dengan hati-hati. Ribuan setan dan malaikat berbisik di kedua telinganya. Membuat otak menjadi tidak stabil untuk bertindak lebih cepat. Tangan Karjang menjadi geming.

            Tidak ada peristiwa yang istimewa pada rakaat pertama, selain beberapa orang yang batuk karena dingin menuju malam.

            Pada rakaat kedua Karjang mulai dapat mengendalikan diri. Ia berjanji tidak akan terpengaruh dengan segala bisikan. Ketika Al-Fatihah meluncur dari mulut sang Imam, Karjang teringat pada sang istri yang sebelum berangkat mengingatkannya.

            “Kau bisa membatalkannya. Tidak ada nazar yang dapat berakibat buruk, kau bisa mengurungkannya.”

            “Apakah kamu akan membiarkan adik iparmu gelisah di alam sana?”

            Istrinya ketika itu hanya bisa menjawab dengan tangisan. Ia memeluk dua anaknya sambil menatap Karjang meluncur ke jalan raya dengan kompor di kepalanya.

            Rakaat kedua telah ia lewati begitu saja. Pikiran itu telah menyia-nyiakan kesempatan yang kedua kali. Lalu ia berpikir melakukannya pada rakaat ketiga.

Ah, kenapa begitu sulit sekali membunuhnya? Padahal sebelum berangkat ia begitu bernafsu ingin menghabisi predator itu. Kemelut sederas sungai, terus mengaliri seluruh jaringan urat di tubuhnya. Ia masih waras meskipun api itu telah mengepung otak. Ia sebenarnya ingin menyelesaikan semua bukan di rumah-Nya. Bukan di tempat yang suci dan bahkan di bulan yang suci seperti sekarang. Tapi ia tak berdaya. Ia percaya tentang takdir yang telah membawanya ke sini. Tentang Dorka yang harus ia temui pada bulan Ramadan di sebuah masjid.

            Gagang pisau belati sudah ia pegang dengan erat dalam posisi masih di terselip di pinggang. Dalam hitungan detik bisa saja ia tarik pisau itu dan langsung menancap ke arah mana suka.

Ketika melakukan rukuk dengan tuma’ninah, Karjang merasa bahwa ia telah menghina Tuhan. Karena rukuk adalah salah satu perwujudan membangun ketundukan dan tatakrama seseorang kepada Sang Pencipta.

            Sampai rakaat terakhir Karjang belum bertindak. Bahkan hingga sang Imam aweh salam pun ia seperti memaku dalam duduknya.

            Dorka bersalaman dengan beberapa orang Jemaah. Dorka tahu ada seseorang yang menunggu. Seseorang yang berharap sebuah peluang.

            Dorka meneruskan wirid. Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap takbir membuat Karjang bergetar.

            Selepas doa dipanjatkan, Dorka mengaji. Pikiran Karjang dilanda kekacauan yang luar biasa. Ia kebingungan meletakkan pertanyaan dalam hatinya: “Apakah aku ingin disambut zikir ribuan malaikat atau sorak kemenangan ribuan setan?”

            Beberapa saat kemudian, sebelum Dorka menuntaskan mengajinya, Karjang beranjak dari masjid dengan sesungging senyum. Meninggalkan kemenangan hatinya.

Ia memegang belati. Dingin.

***

Ngabatalan = memakan takjil

Bandung, 2020

Rudi Riadi, sehari-hari mengajar di SMA swasta di Bandung. Tulisannya dimuat di Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Galamedia, Guneman, serta majalah sastra Sunda Mangle dan Cupumanik. Lebih banyak menulis dalam bahasa Sunda dan pernah mendapat hadiah sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk bidang cerpen dan esai. Kumpulan cerpen mini bahasa Sundanya Lalaki jeung Tihang Listrik dan Pilihan jeung Harewos diterbitkan oleh Guneman Publishing.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved