Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Senyum Kemenangan

Dorka! Nama itu bertahun-tahun terus menjalar seperti darah kotor di sekujur tubuhnya. Menjadi bayang-bayang di setiap kelebat lamunannya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

            Kalau hati sudah dibalut dendam, semua tidak berpengaruh. Semuanya menjadi kebal. Suara azan yang merdu, janggut yang panjang, atau apalah itu sebagai simbol kadar kesalehan seseorang. Tidak! Karjang tidak peduli. Ia hanya menginginkan orang itu mati.

            Seorang sepuh beserban putih menyuruh Dorka untuk melantunkan iqomah. Seluruh jemaah berdiri.

            “Rapatkan safnya!” perintah Sang Imam kepada jemaah. Karjang memilih berada di belakang Dorka. Posisi terbaik untuk mendekatkan janji. Ia sadar bahwa badannya sudah tambun dan tenaganya bertambah lemah karena rematik. Muka Karjang sudah moon face efek bertahun-tahun mengonsumsi obat-obat pereda sakit. Lalu apa yang ia harapkan di kala tubuh dan nafsu tak dapat berkoordinasi? Lalu nekat melawan orang yang tampak masih kuat memasang kuda-kuda kakinya?

            Hanya soal waktu. Mungkin juga ini adalah skenario terbaik. Andai harus berhadapan langsung melawan Dorka yang masih kekar, ia pasti sudah langsung tersungkur. Tapi apa jadinya bila masjid ini tiba-tiba harus dipenuhi darah!

Kembali ia menyempurnakan belati agar posisinya bisa dengan mudah ia ayunkan.

“Allahuakbar!” Sang Imam mengangkat kedua tangannya. Karjang memegang pisau belati. Tidak ada yang tahu bahwa ia sudah mulai membuka ritsleting jaketnya dengan hati-hati. Ribuan setan dan malaikat berbisik di kedua telinganya. Membuat otak menjadi tidak stabil untuk bertindak lebih cepat. Tangan Karjang menjadi geming.

            Tidak ada peristiwa yang istimewa pada rakaat pertama, selain beberapa orang yang batuk karena dingin menuju malam.

            Pada rakaat kedua Karjang mulai dapat mengendalikan diri. Ia berjanji tidak akan terpengaruh dengan segala bisikan. Ketika Al-Fatihah meluncur dari mulut sang Imam, Karjang teringat pada sang istri yang sebelum berangkat mengingatkannya.

            “Kau bisa membatalkannya. Tidak ada nazar yang dapat berakibat buruk, kau bisa mengurungkannya.”

            “Apakah kamu akan membiarkan adik iparmu gelisah di alam sana?”

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved