Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Senyum Kemenangan

Dorka! Nama itu bertahun-tahun terus menjalar seperti darah kotor di sekujur tubuhnya. Menjadi bayang-bayang di setiap kelebat lamunannya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

            Negara sudah menghukum Dorka, tapi tidak bisa memadamkan api dendam di hati Karjang.

            Tidak heran ketika mendengar kabar tentang bebasnya Dorka, telinga Karjang langsung memanas. Predator itu menjadi obrolan berulang-ulang dari mulut orang-orang pasar, menjadi suplemen sarapan pagi di warung nasi, menjadi pengiring asap rokok di warung kopi.

Rajapati harus dibayar dengan rajapati. Itulah janji Karjang. Hidupnya akan selalu gelisah bila belum melihat darah yang muncrat di leher Dorka. Dan hari ini adalah saat yang tepat, setelah ia mencari tahu di mana keberadaan Dorka saat ini.

Ilustrasi Cerpen
Ilustrasi Cerpen (Tribun Jabar)

            Karjang meruncingkan teliganya, mencari suara murottal ayat-ayat Alquran dan matanya segera melihat sebuah masjid bermenara tinggi. Sebentar lagi azan Magrib.

            Karjang memarkirkan sepeda motornya di samping masjid. Beberapa orang jemaah masih di luar dan hendak mengambil wudu. Ibu-ibu berdatangan menenteng baki dan rantang takjil.

            Selepas mengambil wudu Karjang menginjakkan kakinya persis pada tulisan batas suci masjid. Ia melangkah dengan lunak serta membenarkan posisi pisau belati yang terselip di pinggang. Ketika berwudu belati itu sedikit bergeser.

            “Assalamualaikum, Karjang. Kumaha damang?” suara itu muncul dari seseorang yang sudah berada di depan pintu masjid. Karjang membalas ucapan itu ambil menyempurnakan celana panjangnya yang ia lipat. Saat mendongak ia tahu siapa yang menyapa. Ia tidak pangling dengan sosok berbadan tegap yang berada di depannya. Ia menyesal telah membalas sapaan. Karena orang itu adalah Dorka. Tangan Dorka menawarkan untuk bersalaman. Karjang tidak bersedia menerima uluran itu. Hatinya yang baru saja dingin kembali mendidih.

            “Saya tahu suatu saat kamu akan datang. Silakan masuk, Karjang. Kita salat dan ngabatalan dulu. Maaf, saya harus segera azan.” Lelaki kekar itu berujar sambil tersenyum serta meninggalkan Karjang. Nadanya datar. Dorka sudah tampak tua, seperti ia juga, tapi tidak mampu menggerogoti ketegapan badannya. Otot-otot Dorka masih menonjolkan ketangguhan. Cukup menciutkan hati Karjang.

            Dorka melaungkan azan Magrib, Semua berseru hamdalah sambil memakan takjil serta menjawab setiap kalimat dalam azan. Suara azan yang sangat merdu.

            Dalam kecamuk hatinya Karjang berusaha mengendalikan diri dan tetap berusaha memakan beberapa buah kurma. Sesudah azan, Dorka ikut terlibat menikmati beberapa kudapan takjil. Karjang berusaha meredam amarahnya. Dadanya bertalu-talu seperti ratusan marbut sedang berparade beduk di hatinya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved