Breaking News:

Pakai Galon & Ember, Tradisi ''Gogobrot'', Cara Pemuda di Cisolok Sukabumi Bangunkan Sahur

Tradisi membangunkan sahur dengan menggunakan ember bekas cat, galon, kentongan dan berbagai alat bekas lainnya masih bertahan.

Istimewa
tradisi membangunkan sahur dengan menggunakan ember bekas cat, galon, kentongan dan berbagai alat bekas lainnya masih bertahan. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Membangunkan sahur dengan menabuh bunyi-bunyian sudah lazim dilakukan di setiap daerah.

Namun, di era modern sekarang tradisi membangunkan sahur dengan menabuh bunyi-bunyian sudah jarang ditemukan, membangunkan sahur dominan menggunakan speker.

Di Kampung Simpang RT 03 RW 02 Desa Wangunsari, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini tradisi membangunkan sahur yang dilakukan sejak puluhan tahun lalu masih bertahan sampai sekarang.

Baca juga: Makan Sahur Banyak Tapi Tetap Lemas saat Puasa? Ini Penjelasannya, Ternyata Tak Disarankan

Ketua Pemuda Kampung Simpang Ari Hamdani (24) mengatakan, tradisi membangunkan sahur dengan menggunakan ember bekas cat, galon, kentongan dan berbagai alat bekas lainnya masih bertahan.

Mereka menyebut radisi tersebut mereka dengan "Gogobrot". Tradisi yang dilakukan turun temurun.

"Kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap bulan ramadan ya dari zaman dahulu sampai sekarang masih tetap lestari, jadi saya munggkin kelas 4 MI sampai sekarang masih berlanjut. Karena anak-anak yang masih segar, memang dulunya ini piket warga, bapak-bapak, berhubung bapak-bapak sering tidak ada kemudian dipindahkan kepada pemuda membangunkan sahur," ujarnya, Senin (3/5/2021).

Ari mengetakan, kegiatan membangunkan sahur ini setiap harinya dilakukan mulai pukul 02.00 WIB dini hari sampai selesai.

Ia beralasan, alat yang digunakan ember hingga galon dipilih karena ramah lingkungan.

"Sekitar jam 2 ya kita sudah stanby sudah pemanasan di masjid, kemudian kita star. Karena alat-alat ini adalah alat ramah lingkungan seperti ember cat bekas, galon, kohkol, terus botol minuman bekas, jadi kita tidak perlu beli, pakai alat yang ada aja dan itupun suaranya keras ya," jelasnya.

Menurutnya, tidak ada warga yang protes mendengar suara yang cukup keras dikeluarkan oleh alat yang digunakan saat membangunkan sahur.

Baca juga: Ini Menu Sahur Putri Dangdut Academy di Sela Syuting, Membuatnya Ingat Mendiang Ayah

Justru, ia mengatakan, warga malah memberikan uang infak untuk para pemuda dan anak-anak yang membangunkan sahur.

"Alhamdulillah selama ini, selama saya ikut Gogobrot belum ada warga yang protes bahkan mengapresiasi, bahkan ada yang memberikan infak, ada yang mengakomodir, ada yang 100 ribu per KK, kalau dikalkulasikan lumayan juga itu, buat ya istilahnya kadedeh buat anak-anak," ucapnya.

Penulis: M RIZAL JALALUDIN
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved